Fenomena Sosial Mudik yang Menjadi Ciri Khas Perayaan Hari Raya di Indonesia

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 21:31 WIB
ilustrasi fenomena sosial mudik
ilustrasi fenomena sosial mudik

Apa itu Mudik?

Mudik merupakan fenomena sosial pulang kampung yang terjadi di Indonesia pada saat hari raya. Tradisi mudik memiliki tiga dimensi dilansir dari laman Puspensos Kementrian Sosial yaitu dimensi spiritual kultural, dimensi sosial, dan dimensi psikologis. Berikut penjelasan mengenai ketiga dimensi tradisi ini.

  1. Dimensi spiritual kultural. Mudik dianggap sebagai tradisi warisan yang dimiliki sebagian besar masyarakat Jawa. Tradisi mudik terkait dengan kebiasaaan petani Jawa mengunjungi tanah kelahiran untuk berziarah ke makam para leluhur. Oleh karena itu, tradisi berziarah muncul dan bertahan dari waktu ke waktu.
  2. Dimensi psikologis. Mudik atau pulang kampung akan memberikan rasa nyaman, aman, dan tenang karena bertemu dengan keluarga besar.
  3. Dimensi sosial. Dalam dimensi ini, banyak orang ingin mudik ke kampung halaman karena ingin menaikkan posisinya di depan keluarga dan kerabat. Ada anggapan bahwa kehidupan di perkotaan selalu lebih baik dan lebih berhasil dibandingkan kehidupan di desa. Oleh karena itu, mudik menjadi salah satu media untuk mengkomunikasikan cerita keberhasilan sekaligus menaikkan posisinya pada strata sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya. Nilai keberhasilan dapat diwujudkan dengan membeli baju baru, alat elektronik, atau barang-barang lainnya yang bertujuan untuk ditunjukkan di depan keluarga, tetangga, dan kerabat. Alhasil mudik juga menjadi penyalur jiwa konsumeris dan hedonis.

Tujuan dan Manfaat Mudik

Pada hakikatnya, fenomena sosial ini merupakan ajang untuk menyemai kesalehan vertikal dan horizontal. Kesalehan vertikal merupakan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Mudik yang biasa diadakan saat hari raya Idul Fitri untuk meningkatkan kebersihan hati. Sedangkan, kesalehan horizontal bermakna bahwa orang-orang harus menyambungkan tali silaturahim dengan keluarga, sahabat, dan kerabat tanpa adanya keinginan untuk menunjukkan prestis, melainkan murni untuk menjalin kekeluargaan dan kehangatan kembali.

Baca Juga: Epidemiolog UI: Ledakan Covid Adalah Jawaban dari Orang-orang Nekat Mudik!

Mudik berdampak bagi kesejahteraan sosial dilihat dari fenomena sosial. Masyarakat yang mudik atau pulang kampung bisa dengan beragam alasan dan bisa dalam waktu yang temporer atau permanen. Mudik berkaitan dengan masalah urbanisasi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial. Masyarakat cenderung untuk melakukan urbanisasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan. Karena, adanya banyak peluang di kota besar. Pulang kampung juga dapat mengurangi kemiskinan. Gengsi untuk menunjukkan kesuksesan dapat meningkatkan keinginan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan.

Dilhat dari kesejahteraan sosial, masyarakat yang kembali ke kampung halaman memberikan dampak positif. Namun hal ini kembali lagi pada persyaratan pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial diatas yang harus terpenuhi. Sehingga perpindahan masyarakat dari kota ke desa bukan sekedar perpindahan tenaga kerja tanpa makna, namun memiliki makna bagi peningkatan kesejahteraan.

Larangan Mudik

Baca Juga: Menag Minta Masyarakat Patuhi Edaran PPKM Darurat dan Tidak Mudik Idul Adha

Halaman:

Editor: Ruswanti

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah Pengertian Padanan Kata dan Beragam Contohnya

Jumat, 15 Oktober 2021 | 15:21 WIB

Terpopuler

X