Tuai Kritikan, Berikut Isi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021

Milna Miana
- Minggu, 14 November 2021 | 15:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi menimbulkan polemik.

Apa isi Permendikbud No 30 tahun 2021?

Permendikbud Ristek ini dinilai sangat progresif dalam hal pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang berperspektif korban, salah satunya karena mengatur soal consent atau persetujuan.

Baca Juga: Permendikbud No 30 Ditolak Muhammadiyah dan PKS, Ini Sebabnya

Menurut pegiat hak asasi manusia (HAM), Nisrina Nadhifah (27), belum ada peraturan yang memiliki aspek pencegahan dan penanganan yang berpihak pada korban.

"Bahkan sangat spesifik ada pasal yang menyebutkan bahwa definisi kekerasan seksual itu adalah ketiadaan consent atau ketiadaan persetujuan dari kedua belah pihak," kata Nisrina dikutip dari Kompas.com, Minggu (14/11/2021).

Baca Juga: Wah, Menag Yaqut Dukung Penuh Permendikbud 30

Tuai kritikan

Meski demikian, Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 itu juga menuai kritik, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Jumat (12/11/2021).

Beberapa kalangan ada yang menilai Permendikbud Ristek ini melegalkan seks bebas.

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menilai aturan tersebut berpotensi melegalkan zina.

Menurut, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Lincolin Arsyad salah satu kecacatan materil ada di Pasal 5 yang memuat consent dalam frasa ”tanpa persetujuan korban”.

“Pasal 5 Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 menimbulkan makna legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan,” kata Lincolin.

Lantas, seperti apa isi Pasal 5 Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 yang menuai kritik tersebut?

Isi Permedikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021

Berikut adalah isi pasal yang menuai kontroversi di Permedikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021:

Pasal 5
Ayat (1) Kekerasan seksual mencakup tindakan yang dilakukan secara verbal, nonfisik, fisik, dan/atau melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Ayat (2) Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban;
memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban;
menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada korban;
menatap korban dengan nuansa seksual dan/atau tidak nyaman;
mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada korban meskipun sudah dilarang korban;
mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban;
mengunggah fototubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban;
menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban;
mengintip atau dengan sengaja melihat korban yang sedang melakukan kegiatan secara pribadi dan/atau pada ruang yang bersifat pribadi;
membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu, atau mengancam korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh korban;
memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual;
menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh korban tanpa persetujuan korban;
membuka pakaian korban tanpa persetujuan korban;
memaksa korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual;
mempraktikkan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang bernuansa Kekerasan Seksual;
melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi;
melakukan perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin;
memaksa atau memperdayai Korban untuk melakukan aborsi;
memaksa atau memperdayai Korban untuk hamil;
membiarkan terjadinya Kekerasan Seksual dengan sengaja; dan/atau
melakukan perbuatan Kekerasan Seksual lainnya.

Ayat (3) Persetujuan Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, huruf f, huruf g, huruf h, huruf l, dan huruf m, dianggap tidak sah dalam hal Korban:

memiliki usia belum dewasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
mengalami situasi dimana pelaku mengancam, memaksa, dan/atau menyalahgunakan kedudukannya;
mengalami kondisi di bawah pengaruh obat-obatan, alkohol, dan/atau narkoba;
mengalami sakit, tidak sadar, atau tertidur;
memiliki kondisi fisik dan/atau psikologis yang rentan;
mengalami kelumpuhan sementara (tonic immobility); dan/atau
mengalami kondisi terguncang.

Isi lengkap permendikbud tersebut dapat dilihat di link ini: Salinan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021. (*)

Halaman:
1
2
3

Editor: Milna Miana

Sumber: kompas.com

Tags

Terkini

Materi Sejarah: Deklarasi Djuanda

Kamis, 30 Juni 2022 | 16:15 WIB

Contoh Soal Biologi Bab Animalia Kelas 10

Selasa, 28 Juni 2022 | 19:22 WIB

Gerak Higroskopis dan 5 Contoh pada Tumbuhan

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:17 WIB

Jenis-Jenis Penyerbukan pada Berbagai Tanaman

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:59 WIB

3 Jenis Tuas dalam Pesawat Sederhana

Senin, 27 Juni 2022 | 23:32 WIB

4 Prinsip Kerja Pesawat Sederhana

Senin, 27 Juni 2022 | 21:12 WIB
X