Biarkan Tulisanmu Mengikuti Takdirnya

- Sabtu, 11 Desember 2021 | 13:30 WIB
Dilla, S.Pd
Dilla, S.Pd

Menulislah! Biarkan Tulisanmu Mengalir Mengikuti Takdirnya(Buya Hamka)

 

Sebagai seorang motor dalam dunia pendidikan, penulis sangat tersentil dengan kalimat yang dirangkai oleh seorang tokoh besar Indonesia ini. Ya, Buya Hamka. Beliau adalah seorang tokoh besar yang dikenal oleh semua orang. Siapa yang tidak tahu Hamka, seorang cendikia hebat dan rendah hati dengan puluhan karya yang telah ditulisnya. Karya Beliau sangat bermanfaat dan banyak dijadikan rujukan oleh para kuli tinta dan ‘penggila ilmu’. Perannya di kancah Nasional bahkan Internasional telah mengantarkan bangsa ini dikenal oleh seluruh negara di dunia. Sangat banyak jasa Hamka bagi Indonesia, beliau adalah Pahlawan Nasional yang menjadi kebanggan bangsa ini.

Oleh: Dilla, S.Pd

Hamka adalah seorang politisi, cendikia dan penulis. Sebagai seorang penulis, Beliau terus menggoreskan tinta dan menyampaikan isi pikiran, ide dan gagasananya ke dalam berbagai karya, baik fiksi maupun non fiksi. Tanpa dia tahu apakah tulisannya akan dibaca atau diabaikan. Tugasnya hanya menulis dan menuliskan semua yang ada di dalam kepalanya.  Tetap konsisten dalam menulis untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Ternyata takdir membawa karya Hamka untuk dibaca dan dikenal serta dicari oleh seluruh orang di dunia. Siapa sangka takdir membawa karya Hamka jauh dari masanya. Karya yang sangat fenomenal dan dijadikan rujukan bagi banyak orang.

Karya yang ditulis mampu menginspirasi jutaan pembacanya, bahkan dijadikan film, dan menjadi kajian di berbagai bidang disiplin ilmu bahasa, budaya dan agama. Sebut saja salah satu karya beliau yang fenomenal, yaitu Tafsir AL-Azhar. Siapa yang tidak tahu dengan Tafsir Al Azhar karangan Hamka ini? Hampir semua pondok pesatren di Indonesia bahkan dunia mengambil rujukan ilmu tafsir di dalam kitab ini. Isinya menjadi pedoman dan arahan bagi cendikia muslim saat ini.

Tafsir Al-Azhar ini, ditulis oleh Hamka di dalam hotel prodeo ‘penjara’. Beliau  dijebloskan ke penjara karena  hukuman di rezim masa lalu. Di dalam jeruji besi inilah, dia menghabiskan harinya dan menggunakan kesempatan itu untuk terus berkarya dan menulis. Menyelesaikan tulisannya yang tertunda, bukannya terpuruk Beliau malahan bersyukur, sampai-sampai dia berkata, "Kalau saja saya tidak dipenjara, mungkin karya ini tidak akan pernah selesai." Sucinya jiwa Hamka, benar-benar membuktikan kebesaran hati seorang ulama hebat ini. Beliau yang tidak tamat Sekolah Rakyat pun dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Nasional Malaysia. Sementara Universitas Moestopo, Jakarta, mengukuhkan Hamka sebagai guru besar, dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Menulislah, biarkan takdir membawa tulisanmu kemana dia suka. Tidaklah salah Beliau merangkai kata-kata indah itu, teruslah menulis, dan biarkan takdir yang akan menentukan kemana tulisan itu akan di bawa. Hamka dan banyak penulis lain telah membuktikan bahwa karya yang telah ditulis justru menjadi viral ‘terkenal’ setelah para penulisnya telah tiada. Karya Hamka dicari dan diburu oleh para penuntut ilmu setelah puluhan tahun Beliau tiada. Bahkan novel dan roman yang ditulisnya pun telah difilmkan. Diantaranya adalah Tenggelamnya Kapal Vanderwick dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Karya fenomenal lainnya yang tidak lekang dimakan masa adalah roman Siti Nurbaya karangan Marah Roesli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922. Buku ini juga dijadikan bahan kajian dan perbandingan di hampir perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan dibuatkan menjadi sebuah nama jembatan yang merupakan ikon kota Padang, latar dari cerita roman ini.

Tidak jauh berbeda dengan Hamka, Bung Hatta, tokoh prolamator Indonesia juga pernah berujar “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bisa bebas”. Begitu besar peranan sebuah buku dalam kehidupan seorang tokoh, apalah lagi bagi kita yang ingin menjadi seorang penulis. Tidak bisa kita pungkiri di era digital ini, semua pesan disampaikan dalm bentuk tulis atau teks. Jadi mau tidak mau, suka dan tidak suka, kita harus bisa dan mahir dalam merangkai kata untuk menulis, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: rilis

Tags

Terkini

Begini Cara Cek Hasil UTBK SMBPTN 2022

Sabtu, 21 Mei 2022 | 11:46 WIB
X