Pengertian, Jenis, dan Contoh Mitigasi pada Beberapa Bencana di Indonesia

- Rabu, 29 Desember 2021 | 21:32 WIB
Basarnas melakukan mitigasi bencana
Basarnas melakukan mitigasi bencana

Indonesia merupakan negara yang memiliki letak geografis di khatulistiwa yang beriklim tropis. Hal ini membuat negara kita memiliki curah hujan dan suhu udara yang tinggi. Akibat dari curah hujan yang tinggi, beberapa ancaman yang dapat terjadi, seperti bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter hidrologi dan meteorologi, seperti banjir, tanah longsor, hujan es, angin puting beliung, kekeringan, dan lain-lain.

Selain itu, Indonesia juga daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.  Lempeng Pasifik terjadi di utara Papua dan Maluku Utara. Nah, di sekitar Maluku adalah lokasi tabrakan antara lempeng Eurasia dan Pasifik. Ketika lapisan bumi sudah tidak sanggup menahan, energi tersebut terlepas dan terjadi getaran atau gempa bumi. Selain itu, Indonesia juga dilewati oleh Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik yang memiliki lebih dari 500 gunung berapi dan 127 di antaranya bersifat aktif. Hal ini menyebabkan Indonesia banyak mengalami bencana gunung meletus.

Baca Juga: Edi Busti: Agam Wilayah Rawan Bencana, Mitigasi Harus Ditingkatkan

Dari berbagai ancaman tersebut, Indonesia harus memiliki sistem untuk mencegah atau mengurangi risiko akibat bencana alam tersebut.

Pengertian Mitigasi Bencana Alam

Bencana alam

Mitigasi bencana merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat di kawasan rawan bencana, baik itu bencana alam, bencana ulah manusia, dan gabungan dari keduanya dalam suatu negara atau masyarakat.

Berikut pertimbangan dalam menyusun program mitigasi, khususnya di Indonesia, yaitu:

  • Mitigasi bencana harus diintegrasikan dengan proses pembangunan.
  • Hal lain yang harus difokuskan adalah pendidikan, pangan, tenaga kerja, perumahan, dan kebutuhan dasar lainnya.
  • Saling terhubung dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi.
  • Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk membuat keputusan, menolong diri sendiri, dan membangun sendiri.
  • Menggunakan sumber daya lokal sesuai prinsip desentralisasi.
  • Mempelajari pengembangan konstruksi rumah yang aman bagi golongan masyarakat kurang mampu dan subsidi biaya tambahan dalam membangun rumah.
  • Teknik merombak (pola dan struktur) pemukiman.
  • Tata guna lahan yang melindungi masyarakat di daerah rentan bencana dan kerugian, baik secara sosial, ekonomi, maupun implikasi politik.
  • Mudah dimengerti dan diikuti oleh masyarakat.

Baca Juga: 40 Anggota Pokdarwis Pesisir Selatan Ikuti Pelatihan Mitigasi Bencana di Kawasan Wisata

Halaman:

Editor: Ruswanti

Sumber: Gramedia Blog, Ruangguru.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X