109 Tahun Perguruan Thawalib, Sekolah Islam Modern Pertama di Sumatera Barat

Administrator
- Sabtu, 13 Juni 2020 | 09:16 WIB

HARIANHALUAN.COM - Ketika melintasi jalan raya Padang Panjang-Bukittinggi melewati  daerah pemandian Lubuak Mato Kuciang, maka akan terlihat di pinggir jalan, sebuah komplek sekolah Perguruan Thawalib Padang Panjang. Dari jalan terlihat suasana komplek tersebut biasa biasa saja dengan didominasi oleh bangunan gedung lama. Sekilas tentu tak ada yang istimewa, karena layaknya sebuah lembaga pendidikan.

Namun, menilik sejarah pendidikan Islam di Sumatera Barat, bahkan di Indonesia dari berbagai literatur, maka akan banyak ditemukan kisah dan tulisan tentang komplek sekolah tersebut. Dari kompleks tersebut muncuk berbagai catatan sejarah tentang bagaimana sistim sekolah Islam modern dimulai di Sumatera Barat.

Tentu layak muncul pertanyaan, sejak kapan sekolah Islam di Sumatera  menggunakan bangku, meja dalam sistim pendidikan? Para santri santri tidak lagi mengunakan kain sarung dalam belajar?

Cikal bakal lembaga pendidikan Islam di Minangkabau bermula dari pengajian di surau dalam bentuk sistim halaqah. Yakni duduk bersila dengan para murid memakai kain sarung, serta guru yang mengajar duduk di tengah tengah.

Awal pendidikan halaqah ini, akar sejarah berdirinya Perguruan Thawalib Padang Panjang.

Jauh sebelum tahun 1900, sudah berjalan lama pengajian di Surau Jembatan besi Padang Panjang di bawah asuhan Syekh Abdullah, merupakan salah satu di antara pengajian-pengajian cara lama yang banyak tersebar di Minangkabau.

Pada tahun 1907 Syekh Abdullah pindah mengajar ke Padang, dan pimpinan pengajian Surau Jembatan Besi pindah kepada Syekh Daud Rasjidi (ayahanda dar i H.M.D. Dt. Palimo Kayo) dan murid-murid pengajian bertambah-tambah mendapat kunjungan dari negeri-negeri sekelilingnya dan pelajaran kitab-kitab Arab meningkat.

Berhubung dengan keberangkatan Syekh Daud Rasjidi ke Makkah al Mukarramah untuk memperdalam pengetahuannya dengan Syekh Ahmad Chatib, sementara pimpinan pengajian digantikan oleh kakak beliau Syekh Abdul Lathif Rasjidi (ayahanda H. Mukhtar Luthfi). Tidak lama kemudian pada tahun 1901 pimpinan Surau Jembatan Besi pindah ke tangan Syekh Abdul Karim Amarullah yang waktu itu terkenal dengan sebutan Inyiak Haji Rasul (ayahanda dari HAMKA).

 
Sekolah  Islam Modern Pertama

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X