Fenomena Alam: Hujan Es dan Hujan Salju di Indonesia

- Jumat, 3 Juni 2022 | 13:27 WIB
Hujan (wallpaperacces)
Hujan (wallpaperacces)

Indonesia merupakan negara yang dilewati garis khatulistiwa. Tandanya, negeri ini masih berada di wilayah tropis. Seperti yang kita ketahui, wilayah tropis hanya memiliki 2 musim, penghujan dan kemarau. Selain itu, kita tidak mengalami musim salju.
Namun, ada beberapa fenomena berupa hujan es dan hujan salju di Indonesia. Melansir dari detik.com, pada tanggal 8 Maret 2022 di Kota Bandung, Jawa Barat terjadi fenomena hujan es. Hujan mengguyur sekitar pukul 14.30 berbentuk es dengan ukuran sebesar kelereng. Selain di Bandung, fenomena ini juga terjadi di sejumlah kota, seperti Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Nah, untuk mengetahui lebih lanjut tentang fenomena ini, simak penjelasan berikut.
Definisi Hujan Es

Ilustrasi Es (Ruswanti)

Menurut BMKG, hujan es disebut juga dengan 'hail', yaitu hujan yang terdiri atas bola-bola es. Hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus dan perbedaan suhu yang tinggi di awan.
Penyebab Hujan Es
Hujan es terjadi karena adanya awan Cumulonimbus tumbuh vertikal melebihi titik beku air. Awan tersebut tumbuh di ketinggian sekitar 450 dpl hingga 10 ribu dpl pada saat massa udara dalam kondisi tidak stabil. Awan bagian bawah atau awan panas mengandung uap air dan turun sebagai hujan yang normal. Namun, awan bagian atas atau awan dingin mengandung es. Sehingga saat jatuh di permukaan, hujan akan diiringi air dengan kristal es.
Hujan es banyak disebabkan oleh kondisi alam, seperti kelembaban tinggi, massa udara yang tidak stabil, serta suhu permukaan bumi yang mendukung.
Namun, proses ini terjadi karena suhu di permukaan bumi yang sangat rendah. Jika suhu di permukaan bumi cukup rendah, maka kristal es akan mencapai bumi dalam bentuk es atau hail. Tapi, jika suhu di permukaan bumi cukup panas maka kristal es akan sampai di permukaan bumi sebagai hujan air biasa.

Baca Juga: Hujan Es Terjadi di Sejumlah Wilayah RI, Begini Penjelasan Ahli dari IPB
Tanda-Tanda Fenomena Hujan Es
Fenomena hujan es dapat diprediksi dengan tanda-tanda sebagai berikut.
1. Sehari sebelumnya, udara pada malam hingga pagi hari akan terasa panas.
2. Udara terasa panas dan gerah diakibatkan radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (>4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (>60%).
3. Mulai pukul 10.00 pagi, awan Cumulus akan tumbuh. Di antara awan-awan Cumulus, akan ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepi berwarna abu-abu menjulang tinggi.
4. Kemudian, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus.
5. Pepohonan di sekitar akan bergoyang cepat.
6. Terasa sentuhan udara dingin.
7. Hujan deras turun secara tiba-tiba, apabila hujan gerimis maka kejadian angin kencang jauh.
8. Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang dengan kategori puting beliung maupun tidak.
Durasi hujan es ini tidaklah lama, tergantung volume awan Comulonimbus yang terbentuk. Selain itu, ukuran hail yang terbentuk di daerah tropis umumnya kecil sehingga berlindung di bawah bangunan atau di dalam kendaraan atau payung bisa menjadi pilihan.

Baca Juga: Fenomena Alam: Fatamorgana
Definisi Hujan Salju
Selain hujan es, di Indonesia juga dapat ditemukan hujan salju. Pada umumnya, hujan salju hanya turun di belahan dunia yang beriklim subtropis atau wilayah dengan musim dingin atau negara empat musim. Di Indonesia sendiri, kita akan menemukan fenomena unik ini.
Salju yang turun di negara tropis seperti Indonesia seringkali dianggap sebagai fenomena alam yang unik dan jarang sekali terjadi. Badai yang membawa suhu dingin hingga tingkat ekstrem, umumnya merupakan salah satu penyebab terjadinya fenomena alam unik tersebut.
Nah, fenomena hujan salju di Indonesia ini terjadi di Gunung Cartenz yang terletak di pegunungan Jayawijaya, Papua. Salju di wilayah ini disebut sebagai salju abadi. Puncak gunung ini menjulang setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut. Rupanya fenomena unik ini muncul dikarenakan pada ketinggian tersebut, suhu udara semakin dingin hingga memungkinkan terjadinya hujan salju dan salju disana disebut salju abadi karena akan ada sepanjang tahun.
Ternyata, Indonesia sebagai negara tropis juga punya fenomena unik yang biasa terjadi di wilayah subtropis, ya. Meskipun begitu, tidak semua wilayah di Indonesia mengalami fenomena unik tersebut. Nah, bagi kamu yang ingin melihat salju abadi di Papua, salju ini masih bisa dilihat. Sayangnya, akibat pemanasan global, salju di daerah ini mulai berkurang.

Editor: Ruswanti

Sumber: Kelaspintar.id, detik

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Deret Aritmatika: Pengertian, Rumus, dan Contoh Soal

Selasa, 9 Agustus 2022 | 00:00 WIB

Pengertian dan Konsep Dasar Semiotika

Senin, 8 Agustus 2022 | 18:56 WIB

3 Macam Semiotika dan Tokoh-Tokohnya

Senin, 8 Agustus 2022 | 18:55 WIB

Struktur Teks Cerita Sejarah

Senin, 8 Agustus 2022 | 18:54 WIB

4 Teori Masuknya Islam ke Indonesia

Jumat, 5 Agustus 2022 | 21:19 WIB

Materi Biologi, Protozoa: Manfaat dan Dampaknya

Jumat, 5 Agustus 2022 | 18:58 WIB

Mengenal Sistem Reproduksi dan Klasifikasi Protozoa

Jumat, 5 Agustus 2022 | 18:57 WIB
X