Sistem Ekskresi Reptilia (Kadal, Buaya, Ular, dan Kura-Kura)

- Rabu, 8 Juni 2022 | 21:18 WIB
Bunglon, ilustrasi sistem ekskresi pada reptil
Bunglon, ilustrasi sistem ekskresi pada reptil

Sistem ekskresi adalah sistem pada makhluk hidup yang berfungsi untuk membuang zat sisa, seperti urea, racun, karbon dioksida dan sebagainya. Selain itu, manfaat dari sistem ini untuk menghilangkan racun di dalam tubuh, menjaga tekanan osmosis, dan menyerap kembali zat-zat yang berguna. Organ ekskresi pada makhluk hidup dapat berupa paru paru, kulit, ginjal, dan hati.
Kali ini, kita akan membahas tentang alat ekskresi pada reptil. Sebelum itu, apakah kamu tahu apa itu reptil? Reptil merupakan kelompok vertebrata yang bergerak secara melata. Contoh hewan yang termasuk dalam kategori hewan reptil, yaitu komodo, cicak, bunglon, buaya, biawak, kura-kura, dan ular. Pada dasarnya spesies reptil memang tidak terlalu banyak dibandingkan spesies hewan lainnya. Meski begitu sistem ekskresi hewan reptil memiliki cara kerja yang serupa namun tidak sama dengan hewan lainnya.
Alat Ekskresi pada Reptil
Alat ekskresi pada hewan reptil ada tiga macam, yaitu ginjal, paru-paru, dan kulit. Paru-paru dan kulit digunakan oleh reptil sebagai sarana sistem pernapasan pada hewan reptil. Seperti yang kita ketahui, di dalam paru-paru ada struktur yang disebut dengan alveolus. Alveolus merupakan kantung udara yang kecil namun kaya akan pembuluh darah. Karena strukturnya yang kaya akan pembuluh darah kapiler, maka pada paru-paru inilah proses pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida dilakukan.
Sementara itu, kulit memiliki peran yang sama dalam pertukaran gas. Perbedaannya, kulit hanya berperan sebagai organ pernapasan pembantu. Jadi, jika paru-paru sedang tidak berfungsi optimal, maka kulit akan mengambil alih sebagian dari peran paru-paru.
Alat ekskresi selanjutnya adalah ginjal. Ginjal merupakan alat ekskresi yang paling dominan di reptil. Sebab, sistem pembuangan urin yang dilakukan organ tersebut merupakan sistem ekskresi yang paling dominan pada reptil. Lalu, bagaimana ginjal pada reptil?
Ginjal pada Reptil

Ular, ilustrasi sistem ekskresi reptil

Sistem ekskresi pada hewan reptil dapat dilakukan melalui ginjal. Ginjal berguna untuk mengeluarkan dan menyaring urin. Pada hewan reptil biasanya menggunakan sepasang jenis ginjal metanefros. Cara kerja metanefros setelah ginjal mesonefros dan pronefros yang berjalan ketika berakhirnya masa embrio reptil. Hewan reptil menghasilkan zat sisa metabolisme yang sebagian besar berupa asam urat dengan warna putih.
Ginjal yang dimiliki vertebrata sebenarnya terdiri dari tiga jenis, yaitu pronefros, mesonefros, dan metanefros. Ketiga ginjal tersebut tidak semuanya dimiliki oleh hewan vertebrata termasuk reptil. Ketiga ginjal tersebut juga menggambarkan tingkat primitif suatu hewan vertebrata. Tipe ginjal dari reptil ada 3, berikut penjelasannya.
1. Pronefros
Tipe ginjal paling primitif pada vertebrata. Ginjal ini terdiri atas sel padat yang tersusun rapat dengan jumlah yang tak begitu banyak. Jumlahnya sekitar 7 hingga 10 sel penyusunnya.
Pronefros selalu berpasangan-pasangan dengan jumlah berbeda bagi setiap jenis hewan. Pronefros muncul di masa awal kehidupan embrio. Akan tetapi, pada kondisi dewasa juga dapat ditemukan masih digunakan pada beberapa hewan seperti pada hewan myxinoidea dan teleostei.
2. Mesonefros
Tipe kedua adalah mesonefros. Mesonefros terbentuk setelah pronefros, pada masa pertengahan kehidupan embrio. Ginjal ini berbentuk seperti saluran panjang dengan bentuk menyerupai huruf ‘S’. Mesonefros memiliki lebih banyak saluran daripada pronefros.
Tipe ginjal ini sudah tidak menggunakan mesonefros ketika dewasa. Namun, ginjal pada ikan dan amfibi masih menggunakan tipe ginjal ini. Mesonefros sendiri hanya berupa organ rudimenter (tidak berkembang) yang menempel pada saluran genitalia jantan pada reptil dengan tipe ginjal metanefros.
3. Metanefros
Metanefros adalah ginjal yang berada pada tahap paling sempurna pada vertebrata. Seperti halnya ginjal manusia, metanefros memiliki banyak sekali calyx, yaitu calyx mayor dan calyx minor. Tipe ginjal ini memiliki struktur yang menyerupai pelvis renalis pada manusia.
Metanefros berkembang dari lapisan blastema. Ia lalu tumbuh menjadi banyak saluran dan tunas. Saluran ini yang akan menjadi calyx, sedangkan tunas akan berkembang menjadi ureter.
Reptil menggunakan metanefros sebagai alat ekskresinya. Hal ini membuktikan bahwa dibanding anggota vertebrata yang lain, reptil termasuk vertebrata tingkat tinggi. Kelompok ini sudah memiliki alat ekskresi yang menyerupai alat ekskresi pada manusia.

Baca Juga: Sistem Ekskresi Ikan: Ikan Air Tawar dan Air Laut
Mekanisme Ekskresi Reptil

Buaya, ilustrasi sistem ekskresi reptil

Ginjal metanefros pada reptil akan menyaring urin yang masuk. Urin pada reptil akan masuk melalui pembuluh-pembuluh yang menuju ke metanefros. Pada organ tersebut, urin akan disaring. Metanefros akan membuang asam urat yang terkandung dalam urin.
Pada sebagian besar reptil, mereka mengeluarkan zat sisa berupa amonia dan asam urat. Pada beberapa jenis reptil yang memiliki bentuk dan habitat berbeda akan memiliki struktur yang berbeda. Contohnya, kura-kura. Mereka memiliki saluran ginjal yang sangat pendek. Sedangkan, ular tidak memiliki kandung kemih untuk menampung urin. Pada buaya, reptil yang menghabiskan banyak waktunya di daerah perairan, biasanya mengeluarkan zat sisa yang berbentuk amonia, seperti ikan.

Baca Juga: Empat Jenis Organ Sistem Ekskresi pada Manusia
Metanefros mengekskresikan sebagian besar metabolisme reptil dalam bentuk asam urat. Zat ini memiliki kelarutan yang ribuan kali lebih rendah dalam air dibandingkan amonia atau urea. Bentuk dari asam urat biasanya seperti pasta. Asam urat sendiri merupakan zat yang berbahaya bila disimpan terus-menerus dalam tubuh. Karena itu, reptil memilih melakukan pembuangan asam urat yang tidak memerlukan banyak air untuk membuang nitrogen dalam darah.
Mekanisme yang terjadi pada ekskresi reptil, yaitu asam urat diproses terlebih dahulu dalam metanefros. Zat buangan itu keluar dalam tubuh reptil akan berwarna putih dan tidak lagi beracun bagi tubuhnya. Sementara itu, air yang masih dibutuhkan akan diserap kembali oleh saluran metanefros dan diedarkan kembali ke tubuh reptil. Beberapa anggota reptil seperti buaya juga mengeluarkan amonia dalam sisa metabolismenya. Buaya akan mengeluarkan asam urat dan amonia dalam fesesnya karena ginjalnya terletak berdekaatan dengan usus. Sebenarnya zat sisa ini juga dapat digunakan oleh reptil sebagai alat untuk berlindung dari musuhnya.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa organ ekskresi reptil secara umum ada 3, yaitu paru-paru, kulit, dan ginjal. Ginjal reptil bertipe metanefros yang mengeluarkan zat sisa berupa asam urat. Asam urat berbentuk seperti pasta dan sangat pekat. Reptil memilih zat buangan tersebut karena kandungan air yang sangat sedikit dan berbahaya bagi tubuh.

Baca Juga: Cara Kerja Hati pada Sistem Ekskresi Manusia

Editor: Ruswanti

Sumber: Dosenbiologi.com, Britannica.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Adhesi dan Kohesi: Pengertian, Contoh dan Dampaknya

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 03:22 WIB

Nama Ruangan dan Tempat Umum dalam Bahasa Inggris

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:54 WIB

Cara Menulis Abstrak Dalam Karya Ilmiah

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:51 WIB

Cara Memperkenalkan Diri Dalam Bahasa Jepang

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:48 WIB
X