Perang Rakyat Indonesia di Berbagai Daerah Melawan Penjajahan Kolonial Belanda

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 05:32 WIB
Lukisan Raden Saleh tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Letnan Jenderal Hendrik Markus de Kock tanggal 28 Maret 1830 (Ruswanti)
Lukisan Raden Saleh tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Letnan Jenderal Hendrik Markus de Kock tanggal 28 Maret 1830 (Ruswanti)

Belanda yang mulai sewenang-sewenang mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia rakyat Indonesia membuat berbagai pemimpin daerah memperjuangkan kemerdekaan. Namun, hal tersebut tidak mudah. Butuh waktu lebih dari 350 tahun untuk bisa terbebas dari penjajahan kolonial Belanda.
Para pejuang dan pemimpin perjuangan di berbagai daerah terus berusaha dalam melawan kolonial Belanda begitu dikenang oleh seluruh Rakyat Indonesia. Dengan persenjataan tradisional seadanya, para pejuang menunjukan semangat pantang menyerah dalam berbagai peperangan melawan penjajah. Berikut beberapa perang dalam melawan pemerintah kolonial Belanda yang dilansir dari Kelaspintar.id dan Adjar.grid.id.
1. Perang Saparua di Ambon, Maluku (1817)
Indonesia kaya akan sumber daya alam, salah satunya rempah-rempah yang selalu diburu oleh bangsa Eropa. Bahkan mereka menginginkan untuk memonopoli hasil rempah di Indonesia. Salah satunya di Maluku, dimana kolonial Belanda menerapkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan bangsa Indonesia seperti kewajiban kerja paksa, penyerahan hasil kelautan, memberhentikan guru demi kehematan, menjadikan kawula muda sebagai tentara, dan ketidakmauan Belanda untuk membayar terhadap perahu yang dipesannya.
Menghadapi hal tersebut, para tokoh dan pemuda di Maluku sepakat melawan kekejaman kolonial Belanda. Terjadilah perang antara Belanda dibawah pimpinan Van den Berg dengan Maluku dibawah komando Christina Matrha Tiahahu, Thomas Pattiwwail, dan Lucas Latumahina, yang mana Indonesia mampu menguasai Benteng Duurstede.
Belanda meminta bantuan dari Ambon lewat jalur perairan tetapi digagalkan oleh pasukan Pattimura. Dengan datangnya bantuan dari Batavia maka Belanda membawa semua pasukannya untuk merebut benteng Duurstede dan naasnya benteng tersebut bisa kembali dikuasai Belanda, sehingga sisa pasukan Pattimura berusaha untuk meloloskan diri dari tangan Belanda.
Untuk menangkap Pattimura, maka Belanda membuat sayembara, dimana siapa yang mampu menangkap Pattimura akan diberi hadiah 1000 gulden. Selama 6 bulan melakukan perlawanan, akhirnya Pattimura tertangkap dan pada 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di alun-alun kota Ambon sedangkan pimpinan lainnya seperti Christina Martha Tiahahu dibuang ke Jawa untuk bekerja rodi.

Baca Juga: Penderitaan-Penderitaan Rakyat Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda
2. Perang Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830)
Perang Diponegoro berlangsung pada 1825 sampai 1830 yang menjadi salah satu perang besar yang dihadapi oleh Belanda.
Perang ini muncul akibat kebijakan yang tidak masuk akal dari Kolonial Belanda seperti pengambilan tanah-tanah milik bangsawan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ada juga raja-raja yang merasa menjadi korban adu domba dan kerajaan Mataram terpecah menjadi 4 bagian yaitu Surakarta, Yogyakarta, Pakualam, dan Mangkunegaraan.
Di samping itu, Belanda berencana membuat jalur kereta api di daerah yang dikeramatkan oleh Pangeran Diponegoro, sehingga terjadilah perlawanan. Pada Mei 1825 mereka memasang patok-patok di tanah leluhur Diponegoro. Kemudian patok tersebut dicabut oleh pengikut Diponegoro. Pangeran Diponegoro menggunakan taktik perang gerilya dimana mereka melakukannya secara sembunyi, cepat, fokus, dan efektif.
Perang pecah pada 20 Juli 1825 di Tegalrejo dengan diutusnya serdadu Belanda untuk menangkap Diponegoro. Tegalrejo yang menjadi basis pengikut Diponegoro berhasil direbut dan dibakar oleh Belanda.
Akhirnya, Belanda menggunakan siasat tipu muslihat dengan mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding demi menyelesaikan masalah di Magelang. Akan tetapi, itu membuat Pangeran Diponegoro tertangkap dan diasingkan ke Manado dan dipindahkan ke Makassar sampai meninggal tahun 1855.
3. Perang Jagaraga di Bali (1846-1849)

Perang Jagaraga di Bali

Tahun 1841 Belanda mulai menginjakan kaki di Bali dan memaksa rakyat Bali untuk tunduk dan mengakui pemerintahan Belanda. Sayangnya, keinginan Belanda untuk menguasai Bali tidak selalu berhasil karena kentalnya adat istiadat dan tradisi.
Belanda sangat suka ikut campur dengan urusan kerajaan, seperti membebaskan Belanda dari Hukum Tawan Karang, kerajaan Bali mengakui pemerintahan Belanda, kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintahan Belanda, semua raja-raja Bali harus tundur terhadap perintah kolonial Belanda.
Tentu saja semua tuntutan itu ditolak mentah-mentah oleh rakyat Bali. Maka pada tahun 1846 terjadilah perang untuk memaksa raja Buleleng menandatangani isi perdamaian, yaitu pasukan Belanda ditempatkan di wilayah Buleleng, benteng kerajaan Buleleng akan dibongkar oleh pasukan Belanda, dan biaya perang ditanggung oleh raja Buleleng.
Namun, ajakan perdamaian tersebut tidak diindahkan oleh rakyat Bali akhirnya Belanda mulai melakukan serangan besar-besaran. Ada 3 pertempuran di Bali, ekspedisi pertama tahun 1846 Belanda mengirim 1700 pasukan untuk menaklukan rakyat Bali, namun berhasil diusir oleh rakyat Bali.
Pada ekspedisi kedua tahun 1848, Belanda mengirim pasukan yang lebih besar dan rakyat Bali berhasil memukul mundur Belanda dengan dipimpin oleh I Gusti Jelantik. Pada ekspedisi terakhir tahun 1849, pasukan Belanda yang dikirim sekitar 4.177 orang yang mampu mengalahkan rakyat Bali.
4. Perang Padri di Sumatra Barat (1803-1838)
Perang Padri merupakan perlawanan yang sangat menyita biaya dan tenaga yang sangat besar bagi rakyat Sumatra Barat dan juga Belanda.
Saat itu, rakyat Sumatra Barat merupakan persatuan antara kaum paderi atau ulama dengan kaum adat ditambah lagi datangnya bantuan dari Aceh yang membuat Belanda kesulitan.
Kemudian, Belanda menerapkan sistem pertahanan benteng stelsel. Belanda menjadikan benteng Fort de Kock di bukit tinggi dan Benteng Fort van der Cappelen menjadi benteng pertahanannya. Penerapan sistem pertahanan benteng stelsel oleh Belanda ternyata berhasil menuai kemenangan yang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol tahun 1837.
Kemudian Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Priangan, Ambon, dan Manado.
5. Perang Aceh (1873-1915 dan 1942)
Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda merupakan semangat jihad, yaitu perang membela agama Islam. Belanda harus susah payah melawan rakyat Aceh terbukti dengan gugurnya Jendral Kohler dan kegagalan sistem pertahanan benteng stelsel.
Saat itu, Belanda kewalahan dalam menghadapi perlawanan fisik rakyat Aceh hingga mereka mengutus Dr. Snouck Hurgroje untuk menyamar dan mencari tahu kelemahan rakyat Aceh.
Belanda kemudian menemukan cara untuk mengalahkan perlawanan rakyat Aceh dengan politik adu domba antara golongan bangsawan dan ulama Aceh.
6. Perang Sisingamagaraja di Sumatra Utara (1878-1907)
Perlawanan rakyat Sumatra Utara terhadap Belanda dilakukan oleh Sisingamangaraja XII yang berlangsung selama 24 tahun. Perang ini diakibatkan oleh Belanda yang berusaha mewujudkan Pax Netherlandica.
Pertempuran ini berawal dari serangan ke pusat pertahanan Belanda pada 1907 dan berakhir dengan pengepungan benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak.
7. Perang Banjar-Barito di Kalimantan Selatan (1866)
Perang Banjar berawal dari ikut campurnya Belanda dalam pergantian raja di Kerajaan Banjarmasin. Perlawanan rakyat Banjar dipimpin oleh Pangeran Antasari setelah Belanda menangkap Prabu Anom.
Peperangan pecah di Kalimantan dengan datangnya pasukan bantuan bagi Belanda yang membuat pasukan Pangeran Antasari terdesak. Perang ini benar-benar selesai pada 1866 saat Pangeran Hidayat yang menjadi Raja Kerajaan Banjarmasin menyerahkan diri ke Belanda.

Baca Juga: Perbedaan Pahlawan Nasional, Pahlawan Kebangkitan Nasional dan Pahlawan Revolusi Beserta Contoh Pahlawan

Editor: Ruswanti

Sumber: adjar.id, Kelaspintar.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lulus dengan IPK 3,78, Candrianto Raih Gelar Doktor

Kamis, 22 September 2022 | 15:42 WIB

STMIK Indonesia Padang Gelar Kegiatan PKKMB

Kamis, 22 September 2022 | 15:19 WIB

Sumbar Kembangkan Pendidikan Berbasis Syariah

Kamis, 22 September 2022 | 06:22 WIB
X