Lulus dengan IPK 3,78, Candrianto Raih Gelar Doktor

- Kamis, 22 September 2022 | 15:42 WIB
Candrianto, dosen UNP.
Candrianto, dosen UNP.

HARIAN HALUAN - Rabu, 21 September 2022, Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan Wisuda Sarjana, Pasca Sarjana dan Doktor. Program Doktor Kajian Lingkungan dan Pembangunan UNP melahirkan Doktor atas nama Candrianto.

Candrianto menyelesaikan studi S3 nya tepat waktu dimana awal masuk kuliah tahun 2018 dan tamat tahun 2022.

Tema yang diangkat Candrianto dalam disertasinya adalah tentang Analisis Determinan Green Product Pada Perusahaan Manufaktur Di Sumatera Barat. Dalam menyusun desertasi ini Candrianto di bimbing oleh promotor Prof. Dr. Hasdi Aimon, M.Si dan Co Promotor Dr. Sri Ulfa Sentosa, MS.

Kampanye go green (kembali ke alam) merupakan jenis kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang degradasi lingkungan dan pada saat yang bersamaan mengajarkan masyarakat tentang perilaku hijau sebagai dampak pemanasan global. Untuk mendukung hal tersebut, semestinya semua lapisan masyarakat khususnya para pelaku bisnis perusahaan manufaktur wajib untuk memahami gerakan kembali ke alam. Para pelaku bisnis perusahaan manufaktur memainkan peran penting terhadap kelestarian lingkungan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya di seluruh wilayah, termasuk di Indonesia pada umumnya dan Provinsi Sumatera Barat khususnya. Aktivitas bisnis yang dilakukan berupa pengolahan bahan baku, komponen, ataupun bagian lainnya menjadi barang jadi yang memenuhi standar spesifikasi maupun aktivitas jasa lainnya disebut aktivitas di perusahaan manufaktur. Saat ini aktivitas perusahaan manufaktur tidak hanya memperhatikan aspek keuntungan saja akan tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan aspek faktor sosial dan budaya dari perusahaan yang kita kenal juga dengan istilah 3 P (People, Planet, Profit). Apabila Perusahaan manufaktur tidak menerapkan prinsip 3P maka dipredikasi akan kalah bersaing dengan perusahaan yang sudah menerapkan konsep green.

Dalam kampanye go green memunculkan berbagai istilah baru yang kadang tidak banyak dipahami masyarakat, misalnya makanan organik, produk hijau (green product) dan istilah-istilah green lainnya. Green Product (produk hijau) adalah produk yang isi maupun kemasannya berwawasan lingkungan, sehingga dapat mengurangi dampak negatif atau dampak buruk bagi lingkungan (Wasik, 2016). Green product dapat membantu menghemat energi untuk menjaga dan meningkatkan sumber daya lingkungan alam dan mengurangi atau menghilangkan penggunaan zat-zat beracun, polusi dan limbah. Oleh karena itu produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan manufaktur haruslah menggunakan teknologi ramah lingkungan dan tidak menyebabkan bahaya terhadap lingkungan. Hal ini tentu harus diwujudkan dengan cara melihat persepsi manejer perusahaan manufaktur dalam menghasilkan produk ramah lingkungan.

Persepsi manejer seperti manajer bahan baku, produksi, operasional, pemasaran, SDM, keuangan, komunikasi & hukum perusahaan dan manejer pemeliharaan baik pada perusahaan manufaktur berskala besar, sedang dan kecil di Sumatera Barat sangatlah penting karena jika produk yang dihasilkan ramah lingkungan maka akan bermanfaaat bagi penggunanya yakni konsumen dan lingkungan. Oleh karena itu keberhasilan produk hijau bergantung pada kerjasama dari pihak konsumen dengan produsen (Gupta & Ogden, 2009). Manajer dituntut untuk memiliki pengetahuan atas lingkungan, memiliki kesadaran dan sikap untuk melindungi lingkungan tetapi juga memiliki niat dan perilaku terhadap lingkungan yang didukung oleh adanya peran pemerintah yang pada akhirnya akan tercipta produk hijau. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki persepsi manajer perusahaan manufaktur tentang produk ramah lingkungan yang dipengaruhi oleh pengetahuan, dukungan kelembagaan, kesadaran, dan sikap ramah lingkungan serta niat dan perilaku manejer sehingga memberikan wawasan penting kepada para manejer dalam memfasilitasi pengembangan produk ramah lingkungan.

Untuk menjawab tujuan penelitian ini digunakan teknik analisis data. Teknik yang digunakan adalah model persamaan Structural Equation Modeling (SEM) AMOS. SEM AMOS bertujuan untuk menguji teori atau mengkonfirmasi Theory of Planned Behavior-TPB) dan teori kelembagaan. Theory of Planned Behavior merupakan teori yang digunakan sebagai dasar dari studi teoritis dan empiris dari niat pelaku bisnis (manejer) dan untuk memperediksi bahwa perilaku pelaku bisnis harus didahului oleh niat yang dipengaruhi oleh keyakinan perilaku, keyakinan normatif dan keyakinan kontrol. Sedangkan teori kelembagaan menjelaskan tanggapan atas kepatuhan pelaku bisnis terhadap lingkungan kelembagaan perusahaan.

Berdasarkan hasil analisis data dari penelitian ini, memaparkan bahwa :
Pertama, manejer harus memiliki wawasan dan kompetensi dalam mengatasi masalah lingkungan maka akan meningkatkan rasa kepedulian dan kesadaran manajer manufaktur terhadap lingkungan. Namun pengetahuan lingkungan yang merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan tidak menghantarkan manajer sampai pada pemahaman nilai moral terhadap lingkungan. Jika ditelusuri lebih lanjut tujuan dari memperoleh pengetahuan lingkungan bukan sekedar menguasai pengetahuan lingkungan tetapi penanaman nilai moral terhadap lingkungan. Apabila manejer dapat menemukan nilai moral terhadap lingkungan dari suatu materi pelajaran yang sedang dipelajari maka dapat melakukan lebih banyak upaya dan pengorbanan tertentu dengan menunjukkan sikap positif terhadap lingkungan.
Kedua, Jika manejer memiliki pengetahuan lingkungan yang komprehensif maka akan dapat membentuk niat dan perilaku ramah lingkungan. Hal ini ditunjukkkan oleh fakta dilapangan menyatakan bahwa manejer yang memiliki jiwa green entrepreneur membuat produk dengan menggunakan bahan alami dan menggunakan kemasan dari bahan yang mudah terurai. Dengan menggunakan barang yang lebih ramah lingkungan, diharapkan polusi dan juga limbah yang dihasilkan dari kegiatan bisnisnyapun dapat diminimalisir.
Ketiga, Dukungan pemerintah dalam bentuk penetapan regulasi baik itu berupa aturan formal dan aturan informal yang bersifat tegas dan memaksa maka akan berperan penting dalam pembentukan kesadaran manejer terhadap lingkungan. Dukungan kelembangaan berkaitan dengan regulasi lingkungan seperti adanya subsidi, pajak, tarif, legitimasi dari dimensi regulasi, normatif, dan kognitif dari lingkungan kelembagaan atau konsesi lain yang diberikan oleh pemerintah yang tujuannya adalah untuk mempengaruhi nilai-nilai, kepercayaan, sikap, dan perilaku pemilik-manajer dan bisnisnya. Dukungan pemerintah kepada para manajer manufaktur dapat diketagorikan kedalam dukungan dalam bentuk fisik dan non fisik.

Keempat, Untuk menciptakan produk ramah lingkungan perlu dukungan dari pengetahuan lingkungan dan dukungan kelembagaan seperti adanya regulasi dari pemerintah yang demikian akan menciptakan kesadaran dan sikap manejer akan perlidungan lingkungan serta ditunjukkan oleh niat dan perilaku manajer yang ramah lingkungan.

Dari temuan ini, beberapa implikasi manajerial dapat disarankan karena perusahaan manufaktur harus meningkatkan produksi produk hijau dengan baik, sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan manusia atau lingkungan. Ke depan, mayoritas perusahaan akan go green, sehingga perusahaan manufaktur harus mengikuti tren ini dengan membuat “green manufacturing” dimana produknya harus tunduk pada kelestarian alam dan lingkungan. Menjadi green manufacturing bisa menjadi langkah untuk bersaing dengan perusahaan lain. Oleh karena itu, pelaku usaha manufaktur harus menunjukkan kepeduliannya terhadap perlindungan lingkungan dengan memulai dengan berbagai tindakan dan jasa lingkungan untuk mengurangi limbah, penggunaan energi dan air, serta konsumsi lainnya. Kemudian, sangat penting bagi perusahaan manufaktur ramah lingkungan untuk mendapatkan sertifikat lingkungan dengan menunjukkan bahwa program-program lingkungan sedang dilaksanakan, hal ini tentunya akan membantu meningkatkan citra perusahaan yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan bisnis. Lebih penting lagi, manajer manufaktur harus dengan jelas menunjukkan motif mereka yang sebenarnya untuk proses produk hijau, jika tidak, mereka akan berisiko dituduh melakukan pencucian hijau (greenwashing). Manajer juga disarankan untuk memastikan bahwa setiap proses produksi harus dibuktikan dengan benar dan disertai dengan bukti.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: Penulis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

28 SMK Negeri di Sumbar Bertransformasi Jadi BLUD

Kamis, 29 September 2022 | 06:14 WIB
X