Jamiluddin Ritonga: Awasi Politik Gentong Babi Dilakukan Menteri Jelang Pilpres 2024

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 12:59 WIB
Pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga
Pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, politik gentong babi kembali mencuat menjelang Pilpres 2024 dengan indikasi banyak menteri yang potensial menjadi capres. Mereka dihawatirkan akan menggunakan dana publik untuk mempengaruhi masyarakat pada Pilpres 2024.

"Peluang ke arah itu memang sangat terbuka, terutama menteri yang tugas dan fungsinya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Para menteri itu bisa saja mengkonversi beberapa program untuk digunakan kampanye secara indirect. Mereka membawa program ke masyarakat tidak untuk kepentingan kementerian yang dipimpinnya, tapi diarahkan untuk kepentingan nyapres," kata Jamil dalam pernyataannya, Selasa (19/10/2021).

Menurut Jamil, kampanye indirect (terselubung) menggunakan dana negara memang berpeluang mempengaruhi masyarakat. Apalagi saat ini sebagian masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kelompok masyarakat seperti ini tentu potensial dipengaruhi politik gentong babi.

"Hanya saja besar kecil pengaruhnya sangat ditentukan oleh nilai jual dari menteri yang melakukan politik gentong babi. Bagi menteri yang nilai jualnya tinggi tentu pengaruh politik gentong babi akan sangat besar kepada masyarakat. Politik gentong babi justeru akan menimbulkan efek penguatan bagi masyarakat untuk memilih sang menteri," kata Jamil.

Sebaliknya, menteri yang nilai jualnya rendah, tentu pengaruh politik gentong babi terhadap masyarakat memang ada. Hanya saja pengaruhnya tidak akan meningkatkan elektabilitasnya secara signifikan.

"Jadi, yang sangat dihawatirkan bila menteri itu punya nilai jual tinggi dan tupoksinya bersentuhan langsung dengan msyarakat.  Menteri seperti ini akan berpeluang memanfaatkan politik gentong babi untuk makin meningkatkan elektabilitasnya. Politik gentong babi akan sangat efektif dimanfaatkan untuk menambah lumbung suara," kata mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.

Peluang itu semakin besar mengingat di Indonesia lebih dominan pemilih emosional. Mereka memilih bukan karena kapasitas dan kompetensi calon, tapi kerap masih atas pertimbangan perut. Mereka inilah yang berpeluang besar terpengaruh oleh politik gentong babi.

Peluang seperti itu tentu tak dimiliki calon yang tidak memiliki jabatan publik. Mereka tidak dapat melakukan politik gentong babi, karena mereka memang tidak mempunyai akses untuk itu.

Calon yang bukan pejabat publik tentu akan menggunakan dana pribadi atau dana sponsor untuk mempengaruhi masyarakat pemilihnya. Penggunaan dana tersebut untuk mempengaruhi rakyat tidak dapat dikatakan politik gentong babi.

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

Deretan Perempuan Hebat dalam Keluarga Puan Maharani

Minggu, 5 Desember 2021 | 13:30 WIB

Ini Tokoh Wanita yang Layak Masuk Bursa Capres

Senin, 29 November 2021 | 17:55 WIB

5 Peran Penting Puan Maharani di Kancah Politik

Senin, 29 November 2021 | 16:30 WIB
X