Pers Adalah Mata, Telinga dan Mulut Bangsa

- Senin, 9 Februari 2015 | 19:55 WIB

Menurut JK, apabila pem­beri­taan pers memposisikan bangsa selalu sulit, maka akan menim­bulkan kegagalan. Tapi kalau pemberitaan pers mem­posisikan bangsa optimis, maka bangsa akan maju. Sebab, bangsa yang maju adalah bangsa yang me­miliki semangat. Ia mengakui, pe­m­e­rintah tak dapat berbuat apa-apa tanpa media menyam­paikan pe­mahaman demi­kian ke masyarakat.

Peringatan HPN 2015 ini, kata JK, merupakan momentum untuk mengevaluasi kinerja dan peran pers terkait fungsi pers sebagai penyampai informasi, mem­beri­kan pendidikan dan hiburan.

JK kemudian menyampaikan sedikit beberapa hal yang meme­ngaruhi sejarah pers, yakni situasi bangsa dan teknologi. Situasi bangsa memengaruhi sejarah pers adalah ketika zaman sebelum kemer­deka­an. Ketika itu, pers Indonesia berpe­ran dalam memperjuangkan kemer­dekaan melalui pemberitaan.

Sedangkan sejarah pers yang dipengaruhi teknologi, yakni, jika dulu masyarakat membaca berita yang telah terjadi, sementara saat ini masyarakat membaca berita yang sedang terjadi. Hal itu tidak lepas dari kemajuan teknologi, sehingga muncul media seperti televisi yang bisa menyiarkan siaran langsung, surat kabar online yang menyajikan berita beberapa saat setelah peristi­wa terjadi.

JK melanjutkan, selama ini, pers selain fungsinya mencerahkan bang­sa, juga merupakan sebuah industri yang menyerap lapangan pekerjaan. Di antara dua hal, yakni pemberitaan dan industri, pers harus seimbang. Pers harus menyajikan pemberitaan yang ob­jektif, selain mengem­bang­kan bis­nis. Oleh karena itu, kata JK, jika pers sehat, bangsa akan hebat. Begitu juga se­baliknya, jika bangsa hebat, pers akan sehat karena pers juga tergantung pa­da iklan untuk keberlangsungan dan kese­jahteraan perusahaan pers itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Umum PWI, Margiono mengatakan, kini semua orang semakin berhadapan langsung dengan realitas keter­bukaan informasi, dengan informasi bisa diakses melalui berbagai sum­ber dari produk teknologi berbasis internet. Hal itu menuntut pers juga mening­katkan kompetensi. Pers yang sadar akan tanggungjawab profesi, berwa­wasan dan berke­teram­pilan profe­sioanal yang berko­de etik jurnlistik, untuk kepentingan publik.

“Wartawan sebagai ujung tom­bak tata kelola pemberitaan dalam idealisme dan bisnis pers, pada gilirannya bukan sekadar mencari referensi, namun di saat yang sama harus secara berkesinambungan mampu menempatkan dirinya seba­gai referensi kinerja tercepat, ter­akurat dan terlengkap secara menya­tu. Sebagai referensi, maka pers harus tergugah dapat menjadi pandu di tengah derasnya arus informasi,” tutur Margiono yang juga penang­gungjawab HPN 2015.

Bagir Manan, Ketua Dewan Pers mengimbau, pers seharusnya bekerja seperti semut, yakni membawa dan menyimpan makanan yang berman­faat, setelah sebelumnya makanan tersebut dipilih, apakah makanan tersebut berguna atau tidak. Ia ber­pesan, ketika pers dihadap­kan dengan berbagai tingkah laku dan kenyataan politik yang makin menjauh dari kepentingan rakyat banyak, pers harus berani berperan menerobos berbagai kebuntuan masalah bangsa.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

PDIP dan Nasdem Berbeda Sikap Terkait Wacana PPHN

Selasa, 14 September 2021 | 12:57 WIB

Perempuan Kurang Minat Terjun Dalam Politik, Salah Siapa?

Selasa, 14 September 2021 | 11:40 WIB
X