Tak Ada Pembagian Jatah Cakada di Golkar

- Selasa, 2 Juni 2015 | 18:55 WIB

Menurutnya, kedua kubu tetap akan menyeleksi secara objektif siapa saja yang layak diajukan dalam Pilka­da.­Nantinya, akan diben­tuk tim penjaringan calon yang masing-masing ada di pusat maupun di daerah. Di pusat lanjutnya, akan ada lima orang anggota tim. Semen­tara di daerah, akan ada tim serupa yang beranggotakan sebanyak tiga orang.

“Siapapun dan dari ku­bu manapun, berhak untuk ma­ju dalam Pilkada. Untuk apa kami menen­tukan na­ma ter­ten­tu berdasarkan kubu ter­tentu, jika nantinya tidak punya daya saing di Pilka­da,” tutur Lawrence.

Dia menekankan, jika popularitas dan elektabilitas calon, akan menjadi tolok ukur dalam pencalonan ka­der Golkar di Pilkada men­datang. “Kader harus punya popularitas agar bisa ber­saing dengan kader dari partai lain. Dia juga harus punya potensi elektabilitas yang tinggi. Maka akan dicari yang punya elektabilitas tertinggi di antara yang lain,” tambahnya.

Posisi Dilematis

Peneliti Senior LIPI, Siti Zuhro mengatakan, islah terbatas Partai Golkar yang dilakukan demi menghada­pi ­Pilkada 2015, diakui masih meninggalkan satu polemik.

Hal itu terkait dengan poin ke empat islah, soal keabsahan pihak yang berhak untuk menan­da­tang­a­ni rekomendasi penca­lo­nan kepala daerah yang akan didaftarkan ke Komisi Pe­milihan Umum (KPU).

“Sudah barang tentu, jika masih-masing pihak, baik kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan pihak Agung Laksono (AL), akan ngotot untuk men­jadi pihak yang akan menan­datangani rekomen­dasi itu,” kata Siti, Selasa (2/6).

Siti mengatakan, islah sementara Partai Golkar, dipastikan hanya akan mem­buat pihak KPU bingung. “Seharusnya kesepakatan Golkar tidak membuat KPU dalam posisi dile­ma­tis,”­ katanya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Payung Hukum PPHN Masih Jadi Perdebatan di MPR

Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:18 WIB

Ini Nama Capres dari PDIP, Puan Dapat Kans Besar

Kamis, 21 Oktober 2021 | 10:30 WIB
X