Dedi Mulyadi: Nasionalisme Arteria Dahlan Jakartasentris

- Kamis, 20 Januari 2022 | 16:55 WIB
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi (kiri)
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi (kiri)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menilai pemahaman nasionalisme yang jakartasentris malah melahirkan egoisme intelektual dan struktural.
 
Ungkapan Kang Dedi Mulyadi itu adalah respon pro dan kontra ucapan Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan meminta Jaksa Agung untuk mengganti Kejati yang berbicara bahasa Sunda saat rapat.
 
 
Menurut Dedi, seseorang yang memahami diri sendiri sebagai penguasa Jakarta dan menguasai jagat Indonesia telah mendorong pemahaman keliru. Seolah-olah orang tersebut paling paham mengenai Indonesia namun justru malah sebaliknya.
 
"Ucapan Bang Arteria Dahlan adalah ucapan akademisi dan politisi yang besar di Jakarta dan bisa memahami ruang lingkup pembangunan bersifat elitis sehingga kurang menyelami kebudayaan Indonesia dan tidak mengerti peradaban setiap daerah," ucap Dedi.
 
 
Mengucapkan bahasa daerah, kata Dedi, merupakan upaya kita dalam menjaga keberagaman sebab bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Karena bahasa persatuan maka ada bahasa daerah yang dipersatukan.
 
"Manakala bahasa daerah hilang maka tidak ada lagi yang dipersatukan. Untuk itu menggunakan bahasa Indonesia tidak berarti kita melupakan bahasa daerah. Menggunakan bahasa daerah bukan berarti kita kehilangan nasionalisme dalam hidup," katanya.
 
"Tetapi sesungguhnya justru dengan menggunakan bahasa daerah di sebuah daerah yang menjadi kebudayaannya adalah nasionalisme yang sebenarnya," lanjut Kang Dedi Mulyadi.
 
Dedi mencontohkan hal yang kurang tepat adalah saat orang Sunda menggunakan bahasa Sunda pada masyarakat Papua di Papua. Atau orang Jawa berbicara bahasa Jawa pada masyarakat Minang.
 
"Yang tepat itu orang Sunda datang ke Papua bisa bahasa dan memahami masyarakat Papua, atau orang Sunda ke Jawa bisa berbahasa dan memahami bahasa Jawa atau sebaliknya," katanya.
 
Bagi Dedi semangat toleransi adalah semangat memahami perbedaan. Sehingga setiap orang bisa memahami keberagaman yang ada di Indonesia.
 
"Semoga peristiwa terjadi hari ini yang menjadi hirup pikuk nasional, apa yang disampaikan sahabat kita Anggota Komisi III DPR RI menjadi pembelajaran bagi orang Sunda," pungkas Kang Dedi Mulyadi. (*)

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X