Tantangan Kependudukan Atas Fenomena 'Childfree'

Milna Miana
- Kamis, 16 September 2021 | 06:39 WIB
Filka Khairu Pratama, S.Sos, Analis Bina Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Sumatera Barat
Filka Khairu Pratama, S.Sos, Analis Bina Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Sumatera Barat

Bagong menyebutkan ada dua kemungkinan yang menjadi alasan seseorang atau pasangan memilih childfree. Pertama adalah usia. Mereka tidak ingin punya anak karena masih muda. Keinginan untuk bisa bebas menikmati hidup dengan tidak ada tanggungan seperti anak.

Sedangkan alasan kedua adalah hasrat untuk meniti karir. Untuk mencapai kesuksesan karir, tidak sedikit perempuan yang menganggap kehadiran anak menjadi rintangan sehingga menjadi rintangan tersendiri tersendiri.

Kepala BKKBN Dr. (H.C) Hasto Wardoyo pernah mengingatkan, dampak childfree tentu akan berpengaruh pada struktur penduduk di suatu negara. Kondisi tersebut juga berdampak pada rasio ketergantungan atau rasio beban tanggungan (dependency ratio) yakni angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk usia nonproduktif (penduduk di bawah 15 tahun dan penduduk di atas 65 tahun) dengan banyaknya penduduk usia produktif (penduduk usia 15-64 tahun).

Apabila semakin tinggi dependency ratio, menggambarkan semakin berat beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Hal ini karena harus mengeluarkan sebagian pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan penduduk usia non produktif, begitupun sebaliknya. Keadaan ini tentu saja dapat menjadi indikator maju atau tidaknya ekonomi suatu negara.

Hasto melanjutkan, apabila banyak pasangan memutuskan untuk tidak memiliki anak, maka akan berpengaruh pada jumlah penduduk usia non produktif (penduduk lansia) yang meningkat beberapa tahun kemudian, tentu hal ini juga menyebabkan tingginya rasio ketergantungan.

Pasangan yang memilih childfree hendaknya saling mengingatkan akan perencanaan kesehatan reproduksi yang sehat. Jangan hanya karena pasangan bebas menentukan pilihan, tapi tidak mengetahui risikonya. Banyaklah membaca, karena lebih baik tahu duluan sebelum mengambil keputusan bersama.

Pasangan Childfree hendaknya paham risiko, fakta yang menyebut wanita yang tidak memiliki anak rentan berisiko terserang tumor dan kanker rahim. Tidak hanya bagi yang tidak memiliki anak, penyakit tersebut juga berisiko mengancam mereka yang baru memilki anak pertama saat usianya menginjak 35 tahun.

Akhirnya, hidup memang sebuah pilihan. Pilihan diambil setelah memikirkan baik buruknya sesuatu. Dalam dunia islam tentu tidak mengenal istilah childfree, begitupun dalam kehidupan orang Minangkabau. Dalam islam, pasangan suami istri diajarkan untuk berikhtiar dalam memiliki anak. Karena manusia yang lahir diciptakan untuk jadi pewaris kehidupan selanjutnya.

Setidaknya, bila belum memiliki anak, kita bisa menyantuni anak-anak yang kurang beruntung. Dalam kehidupan orang Minang-pun demikian, ada istilah anak dipangku, kemenakan dibimbing, bersifat keluarga besar, masyarakatnya menganut matrilineal (kekerabatan/harta waris menurut anak perempuan), dan masyarakatnya egaliter serta suka bermusyawarah. Setiap kita punya tanggung jawab untuk memperhatikan sesama, tidak hanya anak kandung tapi juga anggota keluarga lainnya yang menjadi tanggung jawab bersama.

Berdasarkan semua perubahan struktur dan budaya, maka fenomena childfree pada sekelompok orang menunjukkan, simbol atau alasan ingin memiliki anak, sudah mulai beragam pada masyarakat era kekinian. (**)

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: Penulis

Tags

Terkini

Perguruan Thawalib Peringati Hari Disabilitas

Sabtu, 4 Desember 2021 | 12:44 WIB

Gubernur Sumbar Resmikan Surau Al-Ikhlas Taluak Agam

Sabtu, 4 Desember 2021 | 09:32 WIB

IKAD Pesisir Selatan Sambut Hangat PIWR Dharmasraya

Jumat, 3 Desember 2021 | 17:05 WIB
X