Nagari Labuah Canangkan Satu Rumah Satu Sarjana

- Senin, 26 Januari 2015 | 18:34 WIB

Pada masyarakat telah di­be­ri­kan memotivasi agar pu­nya perhatian serius terha­dap pendidikan putra-putri mereka.

Tiga budaya malu yaitu malu tak sekolah, malu punya nilai rendah, dan malu tak kuliah tersebut sedang dikem­bangkan di nagari saat ini, secara berkelanjutan disosia­lisasikan ke tengah-tengah masyarakat agar program ter­sebut mendapat dukungan penuh dari berbagai elemen anak nagari, baik yang berada di kampung halaman maupun perantauan.

Untuk mengantisipasi agar anak-anak Nagari Labuah yang bersekolah di kampung agar tidak memiliki nilai rendah, juga sudah didirikan sebuah perpustakaan nagari. Mesti masih mengalami keter­batasan dari sisi kuantitas dan kualitas buku yang tersedia, namun keberadaan perpus­takaan itu telah mampu men­dorong anak-anak sekolah menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebiasaan.

“Bantuan buku terus ber­da­tangan dari perantau, terakhir datang dari Muaro Bungo dan Jakarta. Ada juga mahasiswa yang sudah tamat kuliah, lalu menyumbangkan buku-bukunya selama kuliah ke perpustakaan ini,” sebut Walinagari.

Dukungan para perantau untuk memajukan pendidikan di Nagari Labuah cukup tinggi. Selain membantu koleksi bu­ku perpustakaan, perantau juga membantu biaya pendidikan, pakaian seragam anak, dan kelengkapan sekolah lainnya.

Nagari Labuah bersama masyarakat dan perantau ber­te­kat pada tahun 2020 terwu­jud satu rumah satu sarjana yang telah dicanangkan bebe­rapa waktu lalu. (h/fma)

Editor: Administrator

Terkini

Ormas NU Solsel Gelar Konferensi Cabang 2021

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:09 WIB
X