Puluhan Ton Ikan Mati di Danau Singkarak

- Rabu, 11 Februari 2015 | 19:48 WIB

Salah seorang petani ikan di Nagari Singkarak, Novrizal (36), mengatakan, akibat bencana ini, setidaknya dia menelan kerugian mencapai Rp32 juta.  “Pagi tadi, lebih satu ton ikan peliaraan saya harus dibongkar karena pusing. Saya terpaksa menjual murah,” ujar Novrizal menjawab Haluan, Rabu (11/2).

Selain ikan karamba, semua jenis ikan dan jenis hewan lainnya di Danau Singkarak juga mengalami mati mendadak. Seperti, ikan bilih, udang dan rinuak. Bahkan buntal ikut merapung dan melayang di permukaan air.

Hendri, 40, petani karamba di kawasan Puruak Saniang Bakar pun kalut. Sebab, sekitar 3 ton ikan jenis nila dan ikan mas yang dipelihara dalam 14 kolam karambanya ter­pak­sa dibongkar sebelum wak­tunya. Akibatnya, dia mengalami kerugian sekitar Rp924 juta dengan estimasi harga jual sebesar Rp 28.000/kg.

Begitu Juprizal,  petani ikan lainnya di Saning Bakar, yang juga mengalami kerugian sebesar Rp230 juta. Semua ikan peliharaannya mengalami mabuk dan melayang di permukaan air akibat tercemarnya air Danau Singkarak. “Paling tidak, sekitar 100 kolam karamba yang berisi ikan siap panen mati men­da­dak,” kata Juprizal di Saniang Bakar.

Untuk menghindari rugi besar, petani berusaha menyelamatkan ikan yang masih dalam kondisi pusing. Mereka membongkar ka­ram­ba dan menjual dengan harga miring. Bila biasanya harga jual ikan nila seharga Rp28.000, mereka terpaksa menjual dengan harga Rp10.000/kg. Menurut para petani, menjual ikan pusing yang masih layak dikonsumsi ini adalah langkah yang harus dila­kukan, karena petani ikan karamba  dibebani oleh tung­ga­kan hutang di bank yang harus dicicil.

Sementara itu,  Zulkifli salah seorang tokoh masyarakat Sing­karak, matinya ikan budidaya ma­sya­rakat kawasan Nagari Sing­karak dan Sa­ning Bakar, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok pada dini hari Rabu (11/2) itu, diduga karena tercemar. Namun, belum ada kete­rangan pasti soal kenapa air danau mengganggu eko­sis­tem setempat. “Dalam sebulan terakhir, ini kejadian kedua,” kata Zulkifli.

Masyarakat juga menduga  selain akibat gesekan lempengan bawah bumi yang menimbulkan belerang, juga akibat banyaknya sampah yang bertebaran di danau.  Biasanya saat air besar, sampah kiriman dari Batang Lembang, ha­nyut ke Batang Ombilin.

“Kalau diperkirakan, sudah ratusan ton sampah tersekat di danau ini,” ungkap Zulkifli.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kapolda Sumbar Buka Diktuk Bintara Polri TA 2021

Senin, 26 Juli 2021 | 21:45 WIB
X