Ikan Mati Tebar Aroma Busuk di Danau Singkarak

- Kamis, 12 Februari 2015 | 20:00 WIB

“Seperti ikan nila yang biasa dijual Rp 24 ribu per­kilo, hanya dihargai Rp 8 ribu hingga 11 ribu perkilo.”ungkap Okta­vianus, salah seorang pemilik ke­ram­ba apung di nagari Saniang Ba­kar, kepada Haluan Kamis, (12/2).

Pihaknya menyebutkan, sebe­lum mati ikan  keramba apung miliknya bermunculan di permu­kaan air dan berputar-putar seperti mabuk. Selang beberapa jam kemu­dian, satu persatu ikan-ikan itu mengambang dalam kondisi mati

Oktavianus memperkirakan hal ini dipicu akibat pengaruh belerang gunung merapi yang mengakibatkan air danau singkarak tercemar. “Kecu­rigaan itu karena kondisi fisik air yang berbeda dari biasanya,” ujarnya.

Terkait itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok M Saleh menye­butkan, terkait matinya ikan keram­ba apung milik petani nelayan di Danau Singkarak, pihaknya telah sudah mendapat informasinya dari masyarakat setempat. Terhadap itu, M. Saleh telah meminta jajaran dinas terkait untuk segera turun ke lokasi.

M Saleh memperkirakan ada dua penyebabnya, yakni karena balerang dan karena  perubahan cuaca. ”Ke­tika kemarau, pakan ikan yang mengandung zat tertentu banyak mengendap di bawah. Dan ketika turun hujan, endapan itu naik sehing­ga membuat hewan di air menjadi mabuk,” bebernya

Sementara itu menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok Setrismen,  berharap kepada dinas terkait agar segera memberikan tindakan antisipatif. Apalagi peristi­wa ini terjadi setiap tahun.  ” Seharusnya bisa diantisipasi jangan sampai terus terjadi, sehingga mem­buat petani ikan merugi,” kata Septrismen via ponselnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri yang dihubungi di Padang juga mem­prediksi matinya puluhan ton ikan di Danau Singkarak disebabkan oleh belarang. Munculnya belerang dari dasar danau, disebabkan oleh gempa tektonik yang terjadi di lempengan bumi di bawah danau.

“Kabarnya 4 hari sebelum ikan mati di Singkarak, terjadi gempa. Hal ini memang tidak bisa diatasi. Namun, untuk meminimalisir keru­gian, masyarakat harus memahami tanda-tanda alam ini,” ujarnya saat dihubungi Haluan, Kamis (12/2).

Walau pun belerang sering mun­cul di Danau Singkarak, kata Yos­meri, tidak akan mematikan ikan yang hidup liar, karena ikan bisa berpindah tempat menghindari belarang dan mencari oksigen. Namun, karena terdapat di dalam keramba, ikan tak bisa keluar meng­hindari belerang sehingga menye­babkan kematian.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Solok Selatan Kembangkan 9 Nagari Tageh

Senin, 18 Oktober 2021 | 01:30 WIB

MTsN Padang Panjang Juara Umum Ajang Holistic DEI

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:55 WIB

Wako Padang Panjang Lantik Pengurus MKKS SMP

Minggu, 17 Oktober 2021 | 17:37 WIB
X