Budidaya Padi Salibu Mulai Diminati

Administrator
- Jumat, 13 Februari 2015 | 19:41 WIB

Dikatakannya, dengan program tersebut, pola tanam padi salibu yang harus diperhatikan dan dijaga oleh petani adalah pasokan air untuk menjaga anakan sampai dewasa, ini penting untuk diperhatikan agar perkembangan anakan bisa sempurna. Padi ini yaitu tanaman yang kembali tumbuh setelah setelah padi dipanen, tunas baru kembali muncul dan akar barunya pun akan muncul kembali, hasilnya akan sama atau bisa melebihi dari yang semula.

Pada dua tahun terakhir, di Tanah Datar budidaya padi salibu tersebut sudah memasyarakat bahkan para kelompok tani sudah banyak yang mengembangkannya dan mereka pun mendapatkan hasil yang maksimal dengan biaya yang relatif rendah. “Kelebihan lain, yaitu waktu panen lebih singkat dari tanaman induk, dapat mempertahankan kemurnian bibit dan biaya pengolahan juga akan hemat,” sebutnya.

Untuk itu, Wabup mengajak semua petani di daerah itu untuk menerapkan sistem tanam padi salibu ini karena telah terbukti hasilnya lebih menguntungkan. “Mudah-mudahan panen kedua ini dapat menjadi contoh petani di kelompok lain untuk segera beralih menanam padi salibu,” katanya.

Di sisi lain, kata dia, dalam mengantisipasi kelangkaan pupuk buatan pabrik yang terjadi akhir-akhir ini, hendaknya petani dapat membuat pupuk buatan sendiri atau pupuk organik yang bahannya ada di sekitar lingkungannya.

Dia mencontohkan pemakaian pupuk yang berasal dari jerami padi. Biasanya petani selesai panen, jeraminya dibakar bahkan sekarang dijual kepada pihak lain.

“Sementara jerami padi dapat dimanfaatkan untuk dibuat pupuk organik kompos yang kan­dungan unsur haranya hampir sama dengan pupuk buatan pabrik,” kata dia. Dia menyebutkan, jerami padi sebagai sumber bahan organik hendaknya dikembalikan ke sawah. Kebiasaan petani saat ini masih banyak yang membakar jerami yang dapat merusak lingkungan dan bahkan ada yang me­njualnya ke luar daerah.

Jerami padi tersebut dapat memperbaiki kesuburan tanah. Untuk itu diperlukan perubahan perilaku petani seperti memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di lingkungan sekitar petani.

Wabup mengatakan, pola tanam dengan sistem salibu ini mendapat respons positif dari Pemkab Tanah Datar, selain petani bisa menghemat biaya pengolahan tanah sebelum turun ke sawah, ternyata panen tanpa bibit baru bisa dilakukan berulang-ulang selama tujuh kali. (h/fma/hel)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Sekda Agam Buka Jambore Anak Disabilitas

Minggu, 5 Desember 2021 | 11:15 WIB

Gunung Semeru Meletus, Gubernur Sumbar Kirimkan Doa

Minggu, 5 Desember 2021 | 06:15 WIB

Kota Sawahlunto Dapat Dua Penghargaan dari JKPI

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:11 WIB

Wakapolda Tinjau Sumdarsin di Polda Sumbar

Sabtu, 4 Desember 2021 | 18:43 WIB
X