Tapan Butuh Pelabuhan untuk Kapal Tonda

- Selasa, 24 Februari 2015 | 19:28 WIB

Dijelaskannya, selain disi­bukkan aktifitas jasa angkutan warga setiap Rabu dan Kamis, pelabuhan kapal tonda juga disibukkan dengan pengang­kutan hasil perkebunan dan pertanian, misalnya tandan buah segar sawit dan palawija melewati pelabuhan sederhana tersebut. Di pelabuhan mini ini, terdapat sejumlah gudang milik tauke sawit yang menam­pung dan membeli sawit warga.

Selanjutnya, Zainuddin (50), warga Hilir Batang Tapan menyebutkan, ia senantiasa menggunakan kapal untuk mengangkut hasil kebunnya untuk dijual kepasar. Selain mudah, pemilik kapal yang ada juga lebih toleran soal pem­bayaran ongkos angkutan.

“Pemilik kapal biasanya memberi kelonggaran kepada kami saat hendak menjual hasil bumi ke Pasar Tapan. Biaya angkut dapat dibayar setelah kami menjual hasil per­ke­bunan ke Pasar. Untuk ko­moditi tertentu, bahkan hanya dijual di pelabuhan saja,” katanya.

Ia biasanya mengeluarkan ongkos sekitar Rp20 ribu hingga ke pelabuhan, dan begitu pula sebaliknya. Jarak dari pelabuhan ke tempatnya tinggal sekitar 10 kilometer. Namun ada kalanya ongkos angkut akan naik sekiranya BBM langka di pasaran. Ia tidak keberatan dengan ongkos angkut seharga itu.

Terkait dengan sarana ang­kut yang ada di Hiliran Batang Tapan tersebut, Bupati Pessel Nasrul Abit  menyebutkan, pemerintah telah meren­ca­nakan pembangunan talut atau pelabuhan yang lebih baik di Tapan. Beberapa kali telah dilakukan survei.

“Jalur sungai masih men­jadi solusi utama untuk dapat memberikan pelayanan kepa­da masyarakat di Hiliran Ba­tang Tapan. Soalnya medan di Hiliran Batang Tapan masih sangat berat. Pemerintah masih kesulitan membangun jalan didarat akibat banyaknya rawa dan gambut menuju pemu­kiman warga di Hilir Batang Tapan,” katanya.

Dikatakannya, Dinas Per­hubungan Inforkom Pessel telah melakukan survei terha­dap pelabuhan dan sarana transportasi di Hiliran Batang Tapan. Persoalan yang diha­dapi di pelabuhan yang ada saat ini adalah tebing rawan runtuh. Bila volume air sungai mening­kat, maka biasanya tebing mengalami runtuh.

“Saat ini, pelabuhan hanya terbuat dari bahan kayu. Bahan dari kayu ini juga mem­per­timbangkan rawannya pela­buhan mengalami runtuh. Jadi perlu kajuan tekhnis untuk membuat desain talut di Ta­pan,” katanya. (h/har)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kapolda Sumbar Buka Diktuk Bintara Polri TA 2021

Senin, 26 Juli 2021 | 21:45 WIB
X