Pemkab Agam Tawarkan Empat Opsi

- Rabu, 25 Februari 2015 | 19:55 WIB

“Kondisi di sekitar Padang Lua, khusus pada hari tertentu, mengalami macet total. Opsi pertama untuk mengatasi ma­salah ini adalah penertiban lalu lintas. Kami telah men­coba melakukannya, namun tampaknya cara tersebut ku­rang efektif, karena kepadatan arus lalu lintas itu sudah sangat luar biasa. Tapi kalau memang itu yang diinginkan, kita akan maksimalkan lagi,” ujar Mar­tias Wanto.

Revitalisasi pasar, menurut Martias Wanto merupakan opsi kedua yang sangat me­mung­kinkan, dimana kawasan Pasar Padang Lua digeser ke dalam hingga beberapa meter. Namun kendala untuk opsi ini menurut Martias Wanto ada­lah masalah tanah, karena sebagian tanah di Pasar Padang Lua itu meru­pakan tanah mi­lik PT Kereta Api Indonesia (KAI).

“Luas tanah PT KAI di kawasan Padang Lua ini men­capai sekitar 2,2 hektare, se­men­tara baru sekitar 5.000-an meter yang dipakai pasar. Ketika melakukan revitalisasi pasar ini, aset PT KAI akan terpakai lebih luas lagi. Jika bisa, semua lahan PT KAI kita manfaatkan. Kalau pasar nanti­nya sudah direvitalisasi, maka akan dibuat terminal untuk mengantisipasi macet,” tutur Martias Wanto.

Martias Wanto me­nga­ta­kan, Pemkab Agam telah me­la­kukan perbincangan dengan pihak PT KAI untuk masalah tersebut. Namun Ia mengakui, dibutuhkan pembicaraan ting­kat lanjut jika opsi ini meru­pakan pilihan terbaik. Namun Pemprov Sumbar menurut Martias Wanto telah berjanji akan memfasilitasi Pemkab Agam dengan PT KAI pusat.

Sementara untuk opsi ke­tiga menurut Martias Wanto adalah memperlebar jalan pada bagian sisi kiri dan kanan, dengan menambah ruas jalan selebar delapan hingga 10 meter. Jika saat ini lebar jalan di Padang Lua hanya delapan meter, nantinya akan di­per­le­bar empat meter pada sisi kiri dan empat meter lagi pada sisi kanan. Jalan inipun nantinya akan dibuka dua jalur.

Namun opsi ini lagi-lagi harus berhadapan dengan PT KAI, karena ada bagian jalan dari arah Kota Padang yang nantinya meggunakan tanah PT KAI.

Jurus pamungkas Pemkab Agam yang menjadi opsi te­rakhir adalah pembangunan jembatan layang atau fly over sepanjang satu kilometer, yang dimulai sekitar 400 meter sebelum simpang empat lam­pu merah dari arah Kota Pa­dang hingga 600 meter menuju arah Kota Bukittinggi.

“Membangun fly over, be­rarti nantinya juga me­mer­lukan pelebaran jalan pada sebelah kiri dan kanan. Nanti­nya juga ada permasalahan pembebasan lahan warga yang terkena dampaknya. Tapi pem­bebasan lahan itu nantinya akan diganti sesuai aturan yang berlaku,” ujar Martias Wanto.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Pessel Gelar Bakti Sosial Donor Darah di KPPN

Senin, 18 Oktober 2021 | 21:46 WIB

Meningkatkan Produksi Padi dengan Teknik SRI

Senin, 18 Oktober 2021 | 21:22 WIB

Pasien Sembuh Covid-19 di Agam Mencapai 7.569

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:40 WIB

Bertahan dari Pandemi Covid-19, UMKM Harus Go Digital

Senin, 18 Oktober 2021 | 10:44 WIB

Harga Mulai Stabil, Petani Karet di Pasaman Senang

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:09 WIB

Tercatat 9.872 Pelaku UMKM di Solok Selatan 

Senin, 18 Oktober 2021 | 04:13 WIB

Solok Selatan Kembangkan 9 Nagari Tageh

Senin, 18 Oktober 2021 | 01:30 WIB

MTsN Padang Panjang Juara Umum Ajang Holistic DEI

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:55 WIB

Terpopuler

X