Dengar Adzan dan Orang Mengaji di Tengah Hutan

Administrator
- Kamis, 5 Maret 2015 | 19:30 WIB

Mingkokok (jenis tokek) sudah berbunyi dua kali. Bagi Bujang, itu sebuah pertanda baginya kalau hari sudah terang. Dia melanjutkan perjalanan pada Minggu paginya. “Saya terdengar bunyi kendaraan, malam itu. Minggu pagi, saya ham­piri bunyi kendaraan itu. Sudah lama berjalan, namun hanya bukit berla­pis bukit saja yang saya temukan. Sayapun kembali balik ke Bukit Bungkuih Nasi dan bertemu dengan aliran sungai,” terangnya.

Dari aliran sungai itu, Bujang bisa turun ke Mungun. Dia terus menelusuri aliran sungai. Dia meli­hat banyak ikan di sungai-sungai itu. Hendak hati ingin mengambil agak seekor ikan, namun apa daya, Bujang tidak begitu ceketan berenang. Kemudian dia bertemu dengan sala (penangkap ikan tradisional), na­mun sala itu kelihatan sudah me­lapuk dan tidak ada isi ikannya lagi. Karena air yang dia hiliri memiliki lubuk yang dalam, dia pun menyu­suri jalan darat memanjat bukit.

Di bagian lain dari lurah bukit tersebut, kembali Bujang bertemu dengan aliran sungai. Dia pun kembali mendapatkan tanda-tanda yang sama. Ketemu dengan sala ikan yang sudah lapuk. Di antara dua aliran sungai itu, ada bukit yang tinggi yaitu Bukit Tapak Kayu.

Dia pun beristirahat di Bukik Tapak Kayu itu, dengan posisi sangat tinggi. Dari bukit ini, dia melihat peladangan warga. Dia pun melihat ada sekelompok hutan yang memi­liki tanaman kecil-kecil. Setelah banyak bukit dia tempuh, pelada­ngan yang dicarinya ternyata tidak ada.

Kemudian dia kembali ke Bukit Tapak Kayu. Dari sana dia berjalan ke bagian utara, ternyata bukit berlapis-lapis. Selanjutnya, Bujang kembali lagi ke Bukit Tapak Kayu, dan berjalan ke arah barat. Namun dia melihat puncak Gunuang Ameh. Dia pun memperkirakan tidak mung­kin arahnya ke sana. Akhirnya, Senin malamnya dihabiskan di Bukit Tapak Kayu itu.

Malam sudah datang pula. Hujan masih saja lebat, membasahi seluruh pakaian yang dipakai Bujang. Malam itu, Bujang kembali memanjat pohon untuk beristirahat. Sampai sekitar pukul 03.00 wib dini hari, barulah hujan berhenti.

Seluruh badan Bujang sudah sakit-sakit, kaku dan mendingin. Hanya bagian dada saja yang masih terasa panas. Hanya suara azan dan mengaji saja yang terdengar olehnya. Mungkin karena kiriman doa dari kampuang mereka.

“Malam itu saya sudah meniat­kan ‘kok kapanjang juo umua ang yuang, basobok lah ang lai jo manusia, tapi kok indak, lah nasib ang sampai di siko ma’ itu niat saya,” ujar Bujang yang mengaku saat itu sudah putus asa. (*)

 

Laporan: ICOL DIANTO

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

IKAD Pesisir Selatan Sambut Hangat PIWR Dharmasraya

Jumat, 3 Desember 2021 | 17:05 WIB

Edi Busti Resmi Jabat Sekda Agam

Jumat, 3 Desember 2021 | 15:20 WIB
X