Biaya Produksi Tak Sebanding Harga Jual

- Minggu, 8 Maret 2015 | 19:46 WIB

Harga teh yang konon berpatokan kepada harga pasar dunia, nilai jualnya selalu melorot, kondisi ini jelas ber­ban­ding terbalik dengan kurs dollar yang dalam beberapa waktu belakangan  selalu me­nun­jukkan tren positif. “Sejak dua bulan terakhir kami selalu merugi,” kata H. Abu Jamar, pengelola dan Ketua Kelom­pok teh Plasma Kayu Jao kepa­da Haluan, Jumat (6/3).

Abu Jamar mengatakan dari hitung-hintungan antara­biaya produksi dengan nilai jual teh saat ini, Ketua Kelom­pok pemilik ratusan hektare kebun teh plasma itu mengaku petani harus menambah Rp20/kg ­bila harga teh berlaku saat ini hanya sebesar Rp1.081. Sedangkan biaya produksi, mulai dari pemetikan seba­nyak Rp500/kg, transportasi ke pabrik teh di PTP. Nusantara VI sebesar Rp200/kg dan biaya perawatan kebun Rp40­0/kg. “Biaya produksi sebesar Rp1.100 perkilo. Selama ta­hun 2015 ini kami merugi saja, karena harga jual Rp.1.100 sekilo,” ungkap  Abu Jamar yang akrab disapa pak haji ini.

Pihaknya menjelaskan dari 4 kelompok  kebun yang terse­bar di kawasan jorong Aie Batumbuak, Kayu Jao dan Batang Barus, dalam sebulan bisa berproduksi daun teh segar diatas 200 ton. Setelah dipetik oleh petani yang men­capai ratusan orang, kemudian diangkut ke Pabrik melalui KUD Manunggal Pri­bu­mi. “Kami menjual daun teh ke PTPN VI Danau Kem­bar melalui KUD,” jelasnya.

Jeritan petani dan pemilik kebun konon sudah berlang­sung sejak beberapa bulan  terakhir. Abu Jamar menye­butkan, harga tertinggi yang pernah dirasakan petani terja­di pada tahun 2013, yakni senilai Rp1.700/ kg. Kemu­dian terjadi penurunan harga sampai Rp1.429/kg. Sepanjang tahun 2014, harga teh kembali naik sampai Rp1.649/kg. “Ber­ta­han beberapa bulan, harga teh kemudian mulai turun. Makin lama makin jatuh, hing­ga kini mencapai nilai terendah, sebesar Rp1.081 perkilo,” tuturnya.

Terkait jeritan petani, ketua KUD Manunggal Pribumi Cindra Masri Rajo Nan Sati, mengaku ikut mengeluh soal harga daun Teh yang terlalu rendah. Kondisi ini telah terja­di beberapa bulan terakhir. Sedikitnya 100 KK anggota KUD Manunggal Pribu­mi te­rus mengalami keru­gian. “ Kita tidak bisa melakukan rasio­nalisasi harga, karena sudah terikat dengan perjanjian kerja­sama dengan PTPN,” katanya via telephon seluler­nya.

Cindra Masri mengaku tata niaga daun teh tidak bisa lepas dari PTPN VI Danau Kembar. Meski sebenarnya ada perusa­haan lain yang bersedia mem­beli daun Teh dengan harga lebih. Namun karena terikat  kerjasama dengan pihak PTPN VI, pihaknya cuma bisa berha­rap ditinjau kembali dan dila­kukan perbaikan harga dimak­sud. “Kita  mendesak adanya formulasi baru dalam kese­pakatan harga ini. Harga yang berlaku sekarang, sudah lama dan perlu diperbaiki,” papar Cindra.

Keinginan memperbaiki formulasi harga oleh KUD Manunggal Pribumi didukung oleh Wali Nagari Batang Barus Syamsul Azwar. Pihaknya bah­kan berharap agar  Pemkab. Solok dapat memfasilitasi per­te­muan antara Petani, KUD, Pemerintah nagari  dan PTP VI Danau Kembar. “Kita harus duduk bersama lagi, soal harga te hyang terus melorot,” tegas­nya kepada Haluan, Minggu (8/3).

Syamsul Azwar menye­butkan, banyak komponen yang terlibat dalam proses budidaya the. Selain petani perawat kebun, ada pemetik dan kemudian pemilik kebun. Kondisi ini berperangruh kepa­da perekonomian warga. Bila tidak ada usaha perbaikan harga, pihaknya sangsi terjadi kemiskinan. “Kita ikut men­desak kesepakatan harga teh supaya ditinjau ulang,” kata Syamsul menyudahi. (h/ndi)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Genius Umar Tinjau Proyek Infrastruktur di 3 Desa

Rabu, 27 Oktober 2021 | 21:38 WIB

Ini Pemenang Desain Batik Padang Pariaman

Rabu, 27 Oktober 2021 | 21:04 WIB

Update Covid-19 di Bukittinggi, Satu Meninggal

Rabu, 27 Oktober 2021 | 19:19 WIB

Gratifikasi yang Mesti Dipahami ASN

Rabu, 27 Oktober 2021 | 19:17 WIB

Wako Padang Panjang: Jadilah Pemuda yang Serba Bisa

Rabu, 27 Oktober 2021 | 16:06 WIB
X