Prajurit Sukses Menjadi Peternak

- Minggu, 8 Maret 2015 | 20:02 WIB

Rusiyadi bercerita menga­pa mau jadi peternak sapi, meskipun ia sebagai seorang prajurit yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Hal ini bermula ketika tahun 2012, ia baru pindah dari Korem 031/Wira Bima, Provinsi Riau, ke Korem 032/Wira­braja, Pro­vinsi Sumatera Barat dan ke Kodim 0307/Tanah Datar, bah­wa ia mendengar Australia tidak mau mengimpor sapinya ke Indonesia. Padahal Indo­nesia sangat membutuhkan daging sapi.

Beranjak dari persoalan itu terpikir, masa untuk sapi saja kita harus mengimpor dari Australia, bahkan Indonesia sebagai negara yang memiliki lahan yang cukup luas untuk be­ternak dan per­tanian, tapi ma­sih bergantung dengan Aus­tralia.

Dari persoalan itulah, Rusi­yadi bertekad untuk berternak sapi dan kebetulan tempat tinggal di kampung istrinya (Asih Rahayu), Jorong Gu­dam, Nagari Pagaruyung, Ke­camatan Tanjung Emas, Ka­bupaten Tanah Datar, me­miliki lahan yang cukup luas dan cocok untuk berternak sapi. Tapi apa daya, ia tidak mempunyai ilmu berternak ditambah modalnya tidak cu­kup. Tapi dia tidaklah putus asa, Rusiyadi mencoba men­datangi Dinas Perternakan Kabu­paten Tanah Datar, dan mencari informasi bagai­mana cara berternak sapi yang baik, termasuk menda­patkan progam pemerintah di bidang perternakan. Oleh Kabid Peterna­kan Kabupaten Tanah Datar disaran­kan, dia untuk membetuk kelompok tani.

Selang berapa waktu, Rusiyadi pun membentuk kelompok ternak sapi dengan beberapa orang yang diberi nama Kelompok Ternak Bangun Nagari. Untuk pengadaan sapi, ia tidak segan-segan menguras tabungannya yang tidak seberapa, untuk membeli seekor sapi jenis PO seharga Rp6,5 juta lebih, itulah awal dari kiprahnya menjadi perternak yang sukses.

Sayangnya, meskipun sudah mendapatkan arahan dari Dinas Peternakan. Namun usaha tersebut belum berhasil, kegagalan itu bukan disebabkan karena tidak serius berternak, tapi dikarenakan sapi yang ia beli itu tidak bisa berkem­bang biak karena sapinya mandul.

“Namun saya tidak berputus asa. Setelah tiga bulan sapi itu tidak beranak, saya jual dan uangnya dibelikan ke sapi jantan seharga Rp9 juta. Dari situ, saya memulai kem­bali mengembangkan usaha ternak sapi,” terang Rusiyadi mengatasi kegagalan saat memulai.

Tekad untuk terus berternak sapi mulai memperlihatkan hasil, di mana sapi jantan yang ia pelihara mem­perlihatkan perkembangan yang mengesankan. Setelah 1,5 tahun memelihara, akhirnya sapi itu laku dijual seharga Rp27 juta. Melihat hasil yang cukup meng­gembirakan ia pun tertarik dengan usaha penggemukan sapi, ia optimis kalau usaha sapi sangat mengu­n­tungkan. Namun berbeda, ketika dia memulai usaha pengge­mukan uang ia dapat tidak dibelikan kepada sapi, akan tetapi dia gunakan untuk mem­­bangun kandang.

“Uang penjualan ditambah pin­jaman sebesar Rp20 juta, saya pakai membuat kandang dengan kapasitas 30 ekor sapi,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

7 Fraksi DPRD Solsel Sepakati Ranperda RPJMD 2021-2026

Rabu, 22 September 2021 | 14:11 WIB

DPMD Kota Pariaman Siap Fasilitasi Desa Dirikan BUMDes

Selasa, 21 September 2021 | 22:10 WIB
X