Kambang Harapan, Kampung Minus Prasarana Dasar

- Senin, 9 Maret 2015 | 19:23 WIB

Daerah itu sebetulnya kini menjadi penghasil rupiah terbesar di Kecamatan Lenga­yang. Dengan luas areal perke­bunan sawit mencapai 3.000 hektare, kawasan itu menjadi pendongkrak eko­nomi utama bagi warga Lengayang sekitar­nya. Ratusan juta rupiah setiap hari berputar di kampung perkebunan ini. Namun sa­yang, meski menjadi penyum­bang pendapatan terbesar kondisi infrastruktur berban­ding terbalik dari hasil yang dikeluarkannya.

Wali Nagari Kambang Uta­­ra Darmalis menye­but­kan, akses transportasi men­jadi kendala utama di Kam­bang Harapan. Jalan utama di sini kondisinya sangat memprihatinkan, selain buruk, maka pada beberapa titik tidak bisa diakses karena tidak ada jembatan.

“Kami berharap jalan utama di kampung di aspal pemerintah. Orang lain sering mengistilahkan bila aspal diperlukan untuk obat, maka tidak akan didapatkan secuil­pun di sini. Saat ini untuk me­ngangkut hasil perkebunan pada banyak tempat masih menggunakan peralatan sederhana,” katanya.

Dikatakannya, Kambang Hara­pan sudah sejak lama mendambakan pengaspalan jalan dan pembangunan jembatan permanen di sejumlah titik. Kampung ini seolah terpisah karena kawasan tersebut tidak bisa diakses langsung oleh kampung di sekitar yang berbatasan langsung dengan kampung penghasil utama sawit itu.

Sementara sejumlah hasil pro­duksi tanaman dan perkebunan seperti sawit, ubi dan ketela rambat juga sulit dianggkut warga dari wilayah Kambang Harapan.

Baharuddin M.Ag mantan Kepa­la Kampung Kambang Harapan tahun 1970-an kepada Haluan me­nye­butkan, semenjak puluhan tahun, bahkan semenjak jaman dahulu kendala yang dihadapi warga dida­erah ini tetap sama, yaitu jalan dan jembatan tidak memadai.

“Bahkan dulu jika terdesak warga sekitar terpaksa menjual murah hasil pertanian dan perkebunan,” ujar Baharuddin tokoh Masyarakat Taun­tuang menyebutkan persoalan yang dihadapi masyarakat kampungnya.

Meski demikian menurut Baha­ruddin, warga sekitar tetap berupaya untuk membuat jalan dan jembatan darurat agar masyarakat setempat bisa melewati kawasan itu. Warga sejak dahulu hanya menggunakan pohon kelapa untuk membuat jem­batan darurat, bahkan berusaha memasang legger agar bisa dilewati.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X