Semua Tambang Batu Bara Tak Berproduksi

Administrator
- Jumat, 3 April 2015 | 19:31 WIB

“Enam pengusaha tam­bang batu bara yang terdaftar di Limapuluh Kota, sumuanya tidak berproduksi atau non aktif. Bahkan ada izin usaha batu bara tersebut yang ber­akhir tahun 2028, dengan luas wilayah KP 1.366 hektare yang dikelola PT.Mutiara Bumi Manggilang, “ungkap Kadis Kehutanan dan Pertambangan Limapuluh Kota, Khalid yang dihubungi, Kamis (2/4) di kantornya.

Dikatakan, nama perusa­haan lima lagi usaha tambang batu bara yang non aktif adalah, PT.Dasa Cita Pusaka Prima Payakumbuh, Direktur Ramli Marzuki, lokasi tambang Ga­lu­gua Kecamatan Kapur IX, dengan luas 184 hektare, taha­pan operasi produksi, masa berlaku (2012-2017). Disusul PT.Arda Dinasty Pekanbaru, direktur Darmawati lokasi di Lubuk Alai, luas KP 185 hek­tare masa berlaku (2010-2017).

Selanjutnya, PT.Asrindo Gita Mandir, direktur A.Wi­liam Padang, luas KP 128,6 masa berlaku izin (2010-2036). PT.Tuah Sakato mam­ba­ngun Nagari, direktur H. Kar­mani Kamal Padang, lo­kasi Nagari Sarilamak, Batu­balang dan Pilubang, Keca­matan Harau, luas KP 191 hektare, izin (2011-2019). Kemudian PT.Bangun Korin Utama, Direktur Ashanyah Jakarta, lokasi tambang Koto Lamo, Kapur IX, masa berlaku izin (2009-2018).

Tak hanya itu, komoditas tambang timah hitam di Na­gari Tanjung Balik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, yang diusahakan PT.Berkat Bhineka Perkasa Pekanbaru, juga non aktif. Sementara luas tam­bangnya mencapai 104,75 hek­tare. Puluhan tambang batu kapur, sirtu, tambang batu gunung juga non aktif.

Menurut Khalid dari 50 izin usaha tambang bahan galian C yang terdapat di Kabupaten Limapuluh Kota, juga banyak yang tidak aktif, utamanya yang diusahakan perusahaan berbentuk PT dan CV. “Sayangnya usaha tam­bang bahan galian C yang sudah mengantongi izin usaha per­tam­bangan itu mayoritas non aktif.

Padahal PAD yang diperoleh dari usaha tersebut cukup tinggi. Bahkan ada satu perusahaan memberikan PAD Rp1 miliar pertahun,”ulasnya.

Sebenarnya, Kabupaten Limapuluh Kota, kaya dengan sumber daya alam (SDA) uta­ma­nya berbagai jenis tambang. Tapi belum terkelola dengan baik, akibat investor yang berminat dan sudah memiliki IUP ternyata kurang serius dalam mengelola kekayaan daerah ini. Sehingga tahapan kegiatan dari prusahaan ter­sebut, masih operasi produksi dan sekarang banyak yang tidak aktif,”jelasnya. (h/zkf)

Editor: Administrator

Terkini

TP-PKK Agam Studi Komparatif ke Jambi

Selasa, 7 Desember 2021 | 20:56 WIB

Ketua PKK Kota Pariaman Serahkan Insentif Dasawisma

Selasa, 7 Desember 2021 | 17:45 WIB

Bupati Agam: LGBT Ancaman Bagi Generasi Harapan Bangsa

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:02 WIB
X