Terios Tabrak Fuso, Satu Keluarga Tewas

- Selasa, 2 Juni 2015 | 19:11 WIB

Menurut pengakuan sopir truk Ade Zulfita, saat kejadian Ia sedang memompa injectpump pada bagian kolong truk, karena untuk menghidupkan mesin truk yang berbahan bakar solar, harus dipompa agar saluran minyaknya berjalan lancar.

Namun saat memompa ter­sebut, mendadak truk bergeser ke depan sekitar dua meter dan dadanya terhempas ke bagian besi kolong truk. Tapi saat itu Ade mengaku tidak mendengar ada dentuman keras.

“Saat kejadian, saya dalam kolong truk, sementara teman saya mencoba menstarter untuk menghidupkan mesin. Ketika mobil berjalan, saya ke luar ko­long dan teman saya memberi tahu bahwa ada mobil yang masuk dalam kolong truk kami,” ujar Ade Zulfita.

Ade mengaku kaget ketika melihat mobil Terios telah masuk dalam kolong truk. Saat melihat ada percikan api pada bagian depan Terios, Ia segera melepas arus aki mobil, karena takut mobil itu akan terbakar.

“Korban posisinya terjepit pada bagian depan, sehingga butuh waktu lama untuk eva­kuasi. Butuh waktu sekitar empat jam untuk mengeluarkan seluruh korban. Bahkan untuk menye­lamatkan dua anak yang duduk di belakang, saya terpaksa me­me­cah­kan kaca mobil, dan Alham­duli­llah kedua anak itu masih bisa diselamatkan meski kon­disinya dalam keadaan patah tulang,” ujar Ade.

Sementara itu, Kanit Laka Lantas Polres Bukittinggi Iptu Nofrizal Chan mengatakan, saat kejadian cuaca sedang cerah, meski sebelumnya hujan lebat mengguyur lokasi kejadian. Saat itu, posisi truk juga berhenti di bawah lampu yang sedang me­nyala, sehingga jika dalam keada­an baik, kendaraan lain pasti akan melihat ada truk yang parkir.

“Mungkin saat kejadian, pe­nge­mudi Terios sedang lengah, atau bisa saja mengantuk, se­hingga menghantam bagian be­lakang truk. Dari keterangan saksi mata, terutama pihak truk, diduga pengemudi Terios mengemudi­kan kendaraannya dalam kecepa­tan tinggi. Tapi kami melihat spido meternya berada pada posisi nol. Mungkin setelah ma­suk kolong truk mesin Terios masih hidup, sehingga spido meternya berhenti pada posisi nol,” ujar Nofrizal Chan.

Nofrizal Chan juga men­jelas­kan, dari hasil olah Tempat Ke­jadi­an Perkara (TKP), tidak ditemukan adanya bekas penge­reman yang dilakukan oleh penge­mudi Terios. Ini berarti, mobil Terios dihentikan oleh truk yang sedang parkir.

“Sepanjang fly over, sudah ada rambunya, agar pengendara tidak parkir, tidak boleh mendahului pengendara di depannya, dan kecepatan maksimal 40 kilo­meter perjam. Saat mobil truk mogok, memang lampu hazard­nya hidup, tapi sayangnnya, pe­nge­mudi truk tidak memberi segitiga pengaman di belakang­nya,” lanjut Nofrizal Chan.

Terkait banyaknya informasi yang mengatakan bahwa penge­mudi Terios adalah keluarga kepala pemerintahan di Kabu­paten Dharmasraya, Nofrizal Chan belum bisa memastikannya, dengan alasan belum banyak mendapat keterangan dari pihak keluarga korban.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Pemkab Pasbar Dukung Pembangunan Rumah Bersubsidi

Sabtu, 25 September 2021 | 18:40 WIB

Ratusan Ibu-ibu di Solok Dapat Bantuan Hortikultura

Sabtu, 25 September 2021 | 17:55 WIB

Sumbar Siapkan Dana Pendamping untuk Dua TPA

Sabtu, 25 September 2021 | 14:33 WIB

Buruan, Pendaftaran Calon Uda Uni Solsel Sudah Buka

Jumat, 24 September 2021 | 19:12 WIB
X