DPP IKM Segera Dideklarasikan

Administrator
- Senin, 18 Juli 2016 | 16:46 WIB

PADANG HALUAN— Minangkabau dikenal sejak dahulunya negeri atau gudangnya orang-orang cerdas dan berakhlak yang mampu membuat sejarah di Indonesia. Namun seiring waktu mulai muncul upaya pihak tertentu yang ingin melunturkan filosofi adat dan agama yang selama ini melekat di Minangkabau baik dengan cara mengedarkan Narkoba atau dengan cara lainnya.
 
Hal ini disampaikan oleh Mantan Kepala Pusat Penerangan TNI (Kapuspen TNI) Mayjend M Fuad Basya, saat halal bi halal antara Ikatan Keluarga Minang (IKM) dengan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se Sumbar di Masjid Nurul Iman, Padang, Minggu (17/7).
 
Fuad Basya yang menjadi ketua tim perumus Dewan Pengurus Pusat (DPP) IKM ini mengatakan, sebelum kemerdekaan, hingga dalam mengisinya kemerdekaan peran orang Minangkabau tidak kecil. Ada beberapa tokoh seperti Buya Hamka, Sutan Syahrir dan Agus Salim yang tercatat menjadi pahlawan.
 
"Masih banyak tokoh yang lainnya yang berasal dari Minang. Mereka semua sangat memegang filosofi Adat Basandi Syara' Syara' basandi kitabulah," ujarnya.
 
Menurutnya, selain filosofi tersebut, para pahlawan juga memegang teguh sistem pemerintahan adat yakni Tungku tigo sajarangan, Tali tigo sapilin. Dengan berjalannya sistem tersebut menurutnya akan melahirkan generasi penerus yang handal, mampu membentengi pengaruh buruk narkoba, dan perilaku menyimpang yang akan merusak kampung halaman.
 
"Peran upaya membentengi kampung, negeri atau negara ini memang tidak mudah, perlu kebersamaan. Baik itu masyarakat yang ada di kampung halaman dan para perantau. Harus bisa, Ibarat Mambangkik Batang Tarandam (membangkitkan kayu yang terendam), " ungkap jenderal bintang dua ini.
 
Lebih lanjut putra asal Bukittinggi ini mengatakan, peran perantau diharapkan tidak hanya dilihat dari sisi sosial dan budaya saja, tetapi juga dapat dilihat dari sisi upaya membangun daerahnya.
 
Bahkan jika dikalkulasikan pendapatan perantau bisa melebihi besaran jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Sumbar. Hal ini dengan catatan jika para perantau dapat terhubung dalam sebuah wadah yang terorganisir.
 
Karena itu, lanjut Fuad, banyaknya jumlah perantau Minang yang tersebar diseluruh Indonesia diharapkan dapat berkontribusi bagi kemajuan Sumatera Barat.
 
Namun, tidak adanya wadah yang menghimpun keseluruhan perantau dalam satu corong menjadi salah satu kendala minimnya gerakan yang mencuat ke permukaan.
 
Jendral yang dari korps pasukan khusus ini menghimbau agar seluruh perantau menyatukan suara dan tekad dalam memajukan Sumbar.
 
“Wadah ini akan dibentuk dalam Dewan Pembina Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Minang (IKM), karena selama ini IKM yang ada tidak memiliki DPP. Jadi IKM yang ada di berbagai daerah seperti di Banten, Bandung, dan daerah lainnya bisa bersatu," terangnya.
 
Menurutnya keberadaan para perantau Minang saat ini masih terpisah-pisah organisasi yang mengatasnamakan daerah asal masing-masing. Karena itu, dalam aspirasi yang sudah direncanakan sejak tahun 2015 ini, dia mengajak para perantau untuk bergabung dalam sebuah kepengurusan DPP IKM yang terpusat di Jakarta dan memiliki jaringan hingga tingkat ranting tiap daerah.
 
“Target saya, Agustus ini data seluruh perantau Minang dari Aceh hingga Papua sudah terhimpun. September akan dibentuk kepengurusan dari pusat sampai daerah dan Oktober akan dideklarasikan,” terangnya. (h/rvo)

Editor: Administrator

Terkini

Gunung Semeru Meletus, Gubernur Sumbar Kirimkan Doa

Minggu, 5 Desember 2021 | 06:15 WIB

Kota Sawahlunto Dapat Dua Penghargaan dari JKPI

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:11 WIB

Wakapolda Tinjau Sumdarsin di Polda Sumbar

Sabtu, 4 Desember 2021 | 18:43 WIB
X