Harga Cabai Mahal, Petani tak Menikmati

- Selasa, 9 Agustus 2016 | 04:07 WIB

LIMAPULUH KOTA, HALUAN—Harga cabai keriting yang cukup pedas sejak dua hari terakhir, tidak berdampak signifikan bagi peningkatan ekonomi para petani cabai di Kabupaten Limapuluh Kota. Pasalnya ketika harga cabai naik, tanaman cabai mereka baru saja selesai masa panen dan sudah dibongkar.

Seperti yang terlihat di Kelompok Tani Bungo Pauh Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban. Dua bidang lahan tanaman cabai kelompok itu sudah dibong­kar.

“Sedikitnya 9.000 batang tanaman cabai sudah di­bongkar, karena sudah habis masa panennya,” ujar Sek­retaris Kelompok Tani Bungo Pauh, Heru yang dihubungi per telepon, Senin kemarin.

Ia mengaku, harga cabai di Halaban rata rata hanya Rp25.000 hingga Rp28.000 per kg. Itu pun merupakan cabai kopay. Kalau cabai biasa, harganya justru jauh lebih murah lagi.

“Harga cabai yang me­lonjak di Payakumbuh, belum terasa dampaknya bagi para petani khususnya di Nagari Halaban,” ulas Heru.

Dikatakan, sekarang ini anggota kelompoknya tengah mengelola lahan yang dita­nami cabai seluas 1 hektar melalui program bantuan Pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas Tanaman Pa­ngan, Holtikulturan dan Per­kebunan tahun 2015. Namun sebagian besar cabainya su­dah dibongkar.

“Kelompok kami yang beranggotakan 15 orang, tengah mengelola tanaman cabai sebanyak 3.000 batang dan tanaman cabai baru seba­nyak 5.000 batang,” se­but­nya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Limapuluh Kota, Afrizul Nazar yang dihubungi Senin kemarin sehubungan dengan naiknya harga cabai merah keriting akhir akhir ini mengatakan, seharusnya ke­naikan harga cabai dapat mensejahterakan para petani. Tapi kebanyakan tanaman cabai mereka sudah dibong­kar, karena sudah habis masa panennya.

Luas lahan kebun cabai di Limapuluh Kota sampai Juni 2016 mencapai 318 hektare, termasuk kebun cabai batuan tahun 2015 seluas 40 hektare. Sedangkan produksi rata-rata mencapai 7 ton per hektare. Kelompok ini mendapat ban­tuan selain bibit, termasuk mesin pompa dan slang, sehingga air bisa masuk sam­p­ai ke kebun mereka.

Kebun cabai seluas 40 hektare itu, tersebar di Keca­matan Lareh Sago Halaban, Situjuh Limo Nagari, Ke­camatan Luak, Akabiluru dan Bukik Barisan. Sebagian besar sudah dibongkar. Saat ini, mereka bakal memulai tanam baru kembali. Hanya saja, belum tentu ketika pa­nen nanti harga cabai masih tinggi.

“Tahun 2016 ini, sejum­lah kelompok tani juga keba­gian bantuan dari pemerintah seluas 75 hektare, tapi saat ini masih dalam proses,” ka­tanya. (h/zkf)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Pemkab Pasbar Dukung Pembangunan Rumah Bersubsidi

Sabtu, 25 September 2021 | 18:40 WIB

Ratusan Ibu-ibu di Solok Dapat Bantuan Hortikultura

Sabtu, 25 September 2021 | 17:55 WIB

Sumbar Siapkan Dana Pendamping untuk Dua TPA

Sabtu, 25 September 2021 | 14:33 WIB

Buruan, Pendaftaran Calon Uda Uni Solsel Sudah Buka

Jumat, 24 September 2021 | 19:12 WIB
X