Toilet Kantor Bupati Limapuluh Kota Kotor

- Sabtu, 13 Agustus 2016 | 04:39 WIB

LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Sebagian besar Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Sekretariat Kantor Bupati Limapuluh Kota belakangan ini kian mengeluhkan kurangnya pemeliharaan dan perawatan fasilitas kantor bupati setempat. Mulai dari fasilitas umum, seperti WC hingga kebersihan ruangan dan lingkungan. 

Tak hanya itu, aliran lis­trik serta jaringan internet (Wifi) kerap tak berfungsi, sehingga membuat kinerja pegawai, terutama yang ber­tugas di bidang pelayanan masyarakat terganggu. Hal ini perlu menjadi perhatian khu­sus Pemkab, mengingat saat ini sistem pelayanan dan kinerja aparatur Limapuluh Kota, masih tertinggal di­banding daerah lain.  

“Kita heran, belakangan ini hampir seluruh fasilitas kerja di kantor bupati seperti tidak diperhatikan. Seperti listrik, Wifi dan perangkat elektronik acap ngadat dan mati berkali-kali. WC pun bau pesing karena airnya kerap mati. Untuk salat saja, kami terpaksa pergi jauh-jauh ke Masjid di Sarilamak atau ke Tanjungpati,” kata seorang ASN, yang meminta na­ma­nya tidak dituliskan.    

Adapun beberapa pega­wai lain yang ditanyai war­tawan ketika berkunjung ke kantor megah itu, Jumat (12/8) siang, rata-rata turut me­ngeluhkan kondisi serupa. Lebih parah lagi, tidak ada­nya perawatan dan penjagaan fasilitas umum di kantor tersebut juga terjadi di rua­ngan pejabat tinggi, hingga ruangan kerja kepala daerah.

“Jangankan fasilitas umum buat para pegawai, di ruangan pejabat setingkat eselon II, seperti asisten, sekda, bupati dan wakil bu­pati sepertinya juga tak diper­hatikan. Aliran air di dalam WC ruangan kerja kepala daerah juga tak mengalir. Ini sangat memprihatinkan,” tutur seorang staf di ruangan kepala daerah. 

Pantauan wartawan di area Kantor Bupati Lima­puluh Kota di kawasan Bu­kiklimau, Sarilamak, Harau, kebersihan lingkungan di beberapa sudut kantor itu memang terlihat tidak terjaga dengan baik. Beberapa plang pemberitahuan di beberpa titik terlihat rusak. Sampah juga bertebaran di sana-sini. Tak hanya itu, lantai di bagian depan juga terpantau kumuh. 

Adapun tanaman di pot-pot bunga, juga terlihat layu akibat tidak dirawat dan disirami. Masjid Surau­go­dang  Kunciloyang, yang sehari-hari dipakai para pega­wai kantor bupati dan sek­retariat DPRD, sering tidak berfungsi di siang hari karena ketiadaan air bersih. “Tolong, dibuatkan saja beritanya. Siapa tahu, dengan dibe­ritakan, akan mendapat per­hatian pejabat terkait,” ce­letuk beberapa ASN. 

Pemerhati politik dan pemerintahan Luak Limo­puluah, Yudilfan Habib, be­gitu dikonfirmasi terkait hal itu menilai, tidak adanya perhatian instansi pemerintah perihal fasilitas umum mau­pun pelayanan masyarakat, mencerminkan kepribadian dan kinerja para pejabat di instansi terkait. Hal ini seyo­gianya dapat dievaluasi, agar sistem pelayanan publik tidak terganggu. 

“Jika para pegawai saja tidak nyaman bekerja di kantornya sendiri, katanya, menandakan adanya kinerja aparatur yang tidak beres. Harusnya kepala daerah me­la­lui sekretaris daerah meng­evaluasi atau memperingati kinerja pejabat terkait, jika memang banyak keluhan dari aparatur, maupun pengun­jung soal fasilitas atau pela­yanan kantor,” ujarnya. 

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Kasus Harian Covid-19 di Agam Terus Melandai

Kamis, 16 September 2021 | 22:17 WIB

Padang Panjang dan PDAM Komit Terapkan GCG

Kamis, 16 September 2021 | 11:20 WIB

5 Kabupaten di Sumbar Kecipratan Bantuan TMMD 2021

Kamis, 16 September 2021 | 10:30 WIB

Baru 4,5 Persen Remaja Sumbar Divaksin Dosis Pertama

Kamis, 16 September 2021 | 08:55 WIB

Tantangan Kependudukan Atas Fenomena 'Childfree'

Kamis, 16 September 2021 | 06:39 WIB
X