Denpom 1/4 Bakti Sosial di Jembatan Ratapan Ibu

- Sabtu, 13 Agustus 2016 | 04:40 WIB

PAYAKUMBUH, HALUAN — Bakti sosial jajaran Denpom I/4 Sum­bar, bérsama anggota Den Zipur 2, Koramil 01, Pol­resta dan Pemko Pa­ya­kumbuh. Kegiatan dilak­sanakan dalam rangkaian kegiatan HUT RI ke-71 di Kota Payakumbuh, sukses merubah wajah Jembatan Ratapan Ibu di Jalan A. Yani Payakumbuh, Jumat (13/8).

Jembatan yang mem­bentang di atas Sungai Batang Agam, di Pasar Ibuah, yang tadinya tampak kusam. Hanya dalam ren­tang waktu 3 jam saja, berubah jadi berseri dan mengkilap. Total 84 pra­jurit di bawah komando Dandenpom I/4 Sumbar, Letkol Cpm Didik He­riya­di, Dandenzipur 2 Mayor Czi Damai dan Walikota  H. Riza Falepi goro menge­cat jembatan tersebut.

Pengecatan ulang jem­batan sepanjang 40 meter itu dengan dwiwarna, me­rah dan putih, warna ben­dera NKRI, membuat wa­jah jembatan selebar 6 meter itu, semakin tampak kokoh dan gagah. Me­lam­bangkan semangat prajurit TNI AD dan Polri. Siner­gisitas semua pihak sangat kental dalam bakti sosial itu.

Anggota Satpol PP di bawah komando Kasatpol, Fauzi Firdaus serta se­jumlah pimpinan SKPD lainnya dan Pemimpin Ca­bang BRI Payakumbuh Hendra Winata yang ikut mensupport cat, juga ikut memberikan dukungan ja­ja­jaran Polri di bawah ko­mando Kapolresta diwakili Kapolsek Payakumbuh AK­P Russyirwan.

Menurut Didik He­riya­di, bakti sosial dimaksud bukan sekedar mengecat jembatan ratapan ibu. Tapi, ingin mengajak warga kota Payakumbuh untuk me­ngenal lebih dalam peris­tiwa sejarah yang  pernah terjadi di jembatan tersebut. Disaat anak bangsa ini memperingati HUT Ke­mer­dekaan RI, seharusnya nilai-nilai sejarah lokal diketahui oleh warga se­tempat. “Sehingga rasa kebangsaan dan semangat pengorbanan warga dalam mengisi cita-cita kemer­dekaan makin tinggi,” ulas­nya.

Dikatakan, Jembatan Ratapan Ibu yang dibangun tanpa kerangka besi, punya nilai sejarah yang tak dapat dilupakan oleh warga Pa­yakumbuh. Dibangun tahun 1818, menjadi tempat ekse­kusi para pejuang kemer­dekaan oleh tentara Belanda pada zaman pen­jajahan.

Dari cacatan sejarah, para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tertangkap Belanda digiring menuju jembatan tersebut, lalu disuruh berbaris di bibir jembatan dan dieksekusi, dengan tembakan senjata api. Sehingga tubuh mereka langsung jatuh ke Batang Agam dan dihanyutkan arus deras. 

Untuk mengenang pe­ris­tiwa itu, maka je­mbatan tersebut diberi nama “Ra­tapan Ibu”. Disana juga dibangun sebuah patung wanita paruh baya yang sedang menangis menyak­sikan kekejaman tentara Belanda di areal jembatan tersebut.

Walikota Payakumbuh Riza Falepi, mengapresiasi bakti sosial yang dilakukan jajaran Denpom I/4 Sumbar itu.  Kehadiran  anggota Denpom dari berbagai Sub­denpom seluruh kota/kabupaten itu, seyogianya membuka mata dan hati warga kota Payakumbuh mengenal sejarah yang pernah terjadi di Jembatan Ratapan ibu itu. Jembatan Ratapan Ibu merupakan saksi bisu, perjuangan ma­syarakat Payakumbuh da­lam menegakkan kemer­dekaan. (h/zkf)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Riau Siap Bantu Kebutuhan Oksigen untuk Sumbar

Kamis, 29 Juli 2021 | 11:25 WIB
X