Ironi Singkarak, Penemuan Obat Stunting dan Bilih yang Terancam Punah

- Senin, 16 Desember 2019 | 14:25 WIB

Peneliti yang juga dosen Poltekkes Kementerian Kesehatan Padang, Dr. Eva Yuniritha, M. Biomed, mengatakan, ia melakukan penelitian ikan bilih pada 2013 hingga 2014. Hasilnya menunjukkan hasil yang luar biasa, bahwa ikan endemik tersebut mampu mengobati stunting.

Dijelaskannya, ia membuat sirup dari ekstrak ikan bilih yang diberi nama "Bilihzinc Syrup". 

Sirup ini diintervensikan kepada 60 orang anak stunting di Paninggahan, Kabupaten Solok selama tiga bulan. Anak stunting yang telah mengkomsumsi sirup, peningkatan tinggi badannya lebih dari 3,63 cm per bulan. Jika dihitung per tahun terjadi penambahan Tinggi Badan (TB) sebanyak 15,71 cm jauh lebih tinggi dari penambahan TB anak normal yaitu 11-12,7 cm per tahun.

“Angka morbiditas (kesakitan) turun sebanyak 26 persen, dan keunggulan lainnya, dengan dosis 10 mg per hari, mempunyai efikasi terhadap penurunan morbiditas penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (ISP) sebesar 36 persen. Lalu penyakit diare setelah intervensi tidak mengalami perubahan, tetapi frekuensi, dan lama menderita penyakit diare mengalami perubahan yang bermakna secara statistik,” ujarnya kepada Haluan, Minggu (15/12).

Ia menuturkan, ikan bilih mengandung zat gizi essensial (protein, zink, kalsium, Fe dan zat lainnya. Dan semua kandungan tersebut sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik, daya tahan dan perkembangan kognitif. Bahkan menurutnya, kandungannya lebih tinggi dari ikan dan lauk hewani apapun.

“Saya sudah diminta BPOM Pusat untuk memproduk, tetapi ikan bilih sejak tahun 2015 sulit didapat, walau pun  ada tetapi harganya sudah mahal sekali. Waktu awal penelitian saya beli ikan bilih seharga paling mahal Rp17 ribu per kilo. Pada akhir penelitian saya sudah beli sampai Rp100 ribu per kilo yang basah, dan keringnya Rp250 ribu per kilo. Sehingga saya tidak bisa produksi karena harga sirup semula diperkirakan hanya paling mahal Rp24 ribu per botol (100 ml) menjadi lebih dari Rp100 ribu per botol,”kata Eva.

Bahkan dikatakan Eva, salah satu perusahaan besar susu dan makanan bayi memakai ikan bilih untuk produknya.

Sementara dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, Kabupaten Solok masuk tiga daerah yang tinggi angka stuntingnya selain Kabupaten Pasaman, dan Pasaman Barat.

Data stunting pada 2013 di Kabupaten Solok tercatat sebesar 39,69 persen, dan pada 2018 menurun menjadi 30,5 persen. Namun, angka itu masih termasuk tinggi jika dibanding secara nasional yang hanya 29,9 persen. Dan 54 persen stunting di Kabupaten Solok berada di Nagari Paninggahan yang wilayahnya berada di sekitar Danau Singkarak.

Wali Nagari Paninggahan, Yosrizal yang dilansir dari Solokkab.go.id, mengatakan, saat ini Nagari Paninggahan menjadi lokus stunting dengan jumlah kasus sebanyak 154 anak, yang tersebar pada seluruh jorong.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Bupati Agam: Masjid Nurul Islam Jadi Cahaya Masyarakat

Kamis, 23 September 2021 | 14:12 WIB
X