Pemkab Solsel Mediasi Masyarakat Abai dengan Perusahaan Perkebunan

- Selasa, 4 Agustus 2020 | 18:27 WIB

HARIANHALUAN.COM - Pemkab Solok Selatan (Solsel) memediasi penyelesaian persoalan masyarakat Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari dengan pihak PT Binapratama Sakato Jaya (BPSJ), Senin (4/8/2020). Sebelumnya Pemkab Solsel juga telah berupaya memfasilitasi persoalan masyarakat Nagari Bidar Alam dengan pihak PT RAP.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Hapison mengungkapkan, beberapa waktu yang lalu masyarakat Nagari Abai meminta PT BPSJ untuk merealisasikan Undang-undang (UU) No 39 tahun 2014 pasal 58 ayat 1, yang berbunyi “Perusahaan Perkebunan yang memiliki Izin Usaha Perkebunan atau izin Usaha Perkebunan untuk budi daya wajib memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar paling rendah seluas 20 persen dari total luas areal kebun yang diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan”.

Ia menyebutkan, UU itu mewajibkan perusahaan untuk menjadikan 20 persen dari luas areal perkebunannya untuk dijadikan kebun masyarakat, namun sampai saat ini PT BPSJ baru merealisasikan 10 persen dari luas HGU nya. “Sisa 10 persen lagi ini yang dituntut oleh masyarakat,” ungkapnya, saat memimpin rapat pertemuan antara perwakilan masyarakat nagari abai dengan pihak PT BPSJ di ruang rapat PT BPSJ.

Turut hadir dalam rapat tersebut anggota DPRD Solsel Mesi Aswanto, Camat SBH, Kapolsek SBH, Wali Nagari Abai, Ketua KAN, ninik mamak, Ketua Pemuda Abai, perwakilan masyarakat serta sejumlah kepala OPD.

Hapison menambahkan, saat ini pihak PT BPSJ sedang melakukan penanaman kembali kebun/membongkar taman tua yang tidak lagi produktif (replanting), jadi momentum replanting ini, yang dijadikan masyarakat agar pihak perusahaan mau memberikan sisa 10 persen tersebut. 

Ia mengatakan, masyarakat menginginkan ada penjelasan dari pihak perusahaan kapan sisa tersebut diberikan, karena itu merupakan hak masyarakat yang sudah diatur dalam undang-undang.

Senada, anggota DPRD Solsel Mesi Aswanto, mengatakan ketentuan mengenai pembangunan kebun masyarakat sudah jelas diatur dalam undang-undang, perusahaan tinggal menjalankannya saja. 

Ia mengatakan, dengan menaati aturan itu, tentu perusahaan akan jadi contoh yang baik bagi perusahaan-perusahaan perkebunan lain di indonesia.

Sementara itu, Ketua Pemuda Abai, Aprisal meminta pihak perusahaan menyediakan lahan yang sedang direplanting ini untuk plasma masyarakat karena lahan lain di luar HGU tidak ada lagi. 

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Padang Panjang Kembali Raih Penghargaan KLA

Jumat, 30 Juli 2021 | 20:11 WIB

Kota Sawahlunto Masuk Zona Merah Covid-19

Jumat, 30 Juli 2021 | 18:43 WIB
X