7 Resort Besar Mentawai Ternyata Dikelola Asing

- Rabu, 16 Juni 2021 | 23:06 WIB

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Staf Ahli Bidang SDA dan LH Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Asmarni membeberkan, berdasarkan data Kemenkopolhukam, di Kabupaten Kepulauan Mentawai terdapat tujuh resort besar yang dikelola WNA (Australia, Spanyol, dan Italia) bekerjasama dengan masyarakat lokal melalui perjanjian sewa menyewa tanah yang durasi sewanya dapat mencapai 20 tahun.

"Pada bulan Februari 2021 bahkan mencuat diperbincangkan di media sosial dan berita karena Pulau Pananggalat yang terletak di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dijual secara online," kata Asmarni, di Padang, Rabu (16/6/2021).

Simak Terus Berita Sumbar Hari Ini di Harianhaluan.com

Asmarni menyebutkan, Mentawai menjadi tujuan turis dari berbagai negara seperti Australia. Masuknya turis ada yang secara legal dan ditenggarai ada yang secara ilegal masuk ke wilayah perairan Mentawai menggunakan kapal pesiar (Yacht) untuk melaksanakan kegiatan pariwisata dan selancar air. Hal ini tentunya sangat membahayakan bagi pertahanan dan keamanan negara.

"Ini menjadi salah satu perhatian serius kita," kata Asmarni.

Simak Terus Berita Sumbar Terkini di Harianhaluan.com

Selain ituAsmarni menyebutkan, potensi Sumber Daya Alam (SDA) Sumbar yang begitu melimpah, mengundang para WNA dan investor asing untuk berlomba-lomba menanamkan investasi maupun untuk memiliki hak atas tanah.

Mencermati hal tersebut pemerintah Indonesia telah membatasi ruang gerak para WNA dan investor asing untuk tidak menguasai tanah maupun pinjam nama di perusahaan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

"Namun para WNA dan investor asing melakukan penyelundupan hukum dengan perjanjian nominee atau mengawani WNI," kata Asmarni.

Menurut Asmarni, praktik nominee penting untuk dilarang karena membuat peranan investasi asing dalam mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak optimal, teralihkannya keuntungan atas investasi Indonesia ke negara lain, dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan transfer pengetahuan dari perusahaan asing ke perusahaan dalam negeri. (*)

Editor: Administrator

Terkini

Riau Siap Bantu Kebutuhan Oksigen untuk Sumbar

Kamis, 29 Juli 2021 | 11:25 WIB
X