Cerita Sopir Truk Kerap Dipalak Preman: Ada Istilah 'Biaya Kopi', Dipaksa Beli Aqua

- Rabu, 21 Juli 2021 | 19:45 WIB
Aksi Pemalakan di Padang. (Dok Harianhaluan.com)
Aksi Pemalakan di Padang. (Dok Harianhaluan.com)

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APINDO) Sumbar, Khairul buka suara terkait aksi premanisme dan pungutan liar (pungli) yang kerap menimpa sopir truk. Teranyar, kasus seorang sopir truk dipalak oleh preman di kawasan Indarung, Kota Padang.

Khairul bercerita bahwa setiap kegiatan yang dilakukan para sopir truk sering terjadi pungli. Dia berharap aksi premanisme ini bisa dicarikan solusinya oleh pemerintah maupun aparat sehingga pelakunya bisa dibina.

Baca Juga: Kasus Premanisme Viral, Ini Kata Pihak PT SP

"Kalau mereka tidak dibina, jika masa tahanan (pelaku premanisme, red) sudah berakhir maka mereka akan merajalela kembali," harap Khairul saat acara Advokat Sumbar Bicara Genderang Perang Premanisme dan Pungli.

Di sisi lain, Khairul bersyukur sejak beroperasinya jalan tol Palembang-Lampung setidaknya mengatasi permasalahan pungli. Jika dibandingkan dulu aksi premanisme ini bukan main ganasnya, bahkan sampai membahayakan nyawa sopir truk.

Baca Juga: Berantas Premanisme, Polsek Sungai Rumbai Tangkap Tiga Jukir Ilegal

"Mereka (sopir truk, red) distop di jalan, jika tidak memberikan uang kaca dipecahkan, ada juga yang memakai senjata tajam. Sehingga penghasilan sopir truk tidak membawa uang lagi ketika sampai tempat tujuan," beber Khairul.

Dengan kondisi jalanan yang buruk, kata Khairul, banyak pelaku premanisme yang mencari kesempatan untuk memalak sopir truk. Dengan cara membuat hancur kondisi jalan agar mereka leluasa melakukan kriminal terhadap sopir.

"Kalau persentase premanisme, bajingan lonjat di luar Sumbar kita memang tidak begitu tahu. Tapi di Sumbar cukup aman, pungli di jalanan tidak begitu banyak," ulas Khairul.

Kalau di luar provinsi, sambung Khairul, aksi pungli ini juga ditentukan jamnya. Biasanya pelaku beraksi habis salat subuh dan malam. Makanya setiap sopir yang lewat malam perlu memperhitungkan risiko yang akan terjadi.

"Kalau sopir sudah masuk malam ada ada kendala yang akan terjadi. Uang sopir bisa habis disikat, barang-barang yang mahal harganya juga disikat," ungkap Khairul.

Mirisnya kata Khairul, aksi pungli yang terjadi saat ini tidak hanya menyasar uang sopir truk tetapi juga mobil yang dikendarai. Alhasil mobil tersebut dipeteli supaya tidak bisa ditemukan kembali.

Tingginya aksi pungli ini, menjadi dilema bagi Khairul yang mewakili suara Asoisasi Pengusaha Truk Indonesia Sumbar. Dia pun mengakui pungli dengan biaya tinggi kerapa terjadi pelabuhan dan gudang-gudang pabrik.

"Kalau di gudang pabrik dikenakan berbagai biaya, ada istilah kopi dan uang asap. Seperti di Sumbar 'biaya kopi' ada sekitar Rp5-Rp10 ribuan. Kalau di pelabuhan seperti yang maksa beli Aqua, jika tidak diambil bisa bahaya," tukasnya. (*)

Halaman:

Editor: Milna Miana

Terkini

Bupati Agam: Masjid Nurul Islam Jadi Cahaya Masyarakat

Kamis, 23 September 2021 | 14:12 WIB
X