Menelusuri Penanganan Covid-19 di Kecamatan Asam Jujuhan Dharmasraya: Berjibaku Lawan Badai Hoaks Corona

- Rabu, 28 Juli 2021 | 11:12 WIB
Puskesmas Sungai Limau, instalasi layanan kesehatan yang menjadi ujung tombak penanganan virus Covid-19 di Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya.
Puskesmas Sungai Limau, instalasi layanan kesehatan yang menjadi ujung tombak penanganan virus Covid-19 di Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya.

PULAU PUNJUNG, HARIANHALUAN.COM - Berada di kawasan tapal batas administrasi Kabupaten Dharmasraya dan Solok Selatan sekaligus dilewati garis batas Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, menjadikan wilayah Kecamatan Asam Jujuhan menarik untuk didalami tentang bagaimana suatu wilayah yang jauh dari keramaian dan minim sarana prasarana dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Meskipun sulit dijangkau karena jarak tempuh cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Dharmasraya, tak membuat daerah dengan jumlah penduduk sekitar delapan ribu jiwa itu terbebas dari paparan virus pandemi dunia dengan segala permasalahan ikutannya. Termasuk kabar bohong terkait penanganan Covid-19 yang sengaja disebarkan secara masif dan sudah mengarah pada upaya merongrong kewibawaan pemerintah yang sah.

Camat setempat, Imam Mahfuri, di Asam Jujuhan, Rabu (28/07), mengatakan meskipun sudah mengalami penambahan kasus konfirmasi positif mencapai 12 orang selama Juli 2021, namun rasa kepedulian tentang bahaya pandemi dan upaya menjaga lingkungan keluarga agar terhindar dari paparan virus dengan alasan yang beragam.

"Yang paling mengkhawatirkan adalah merubah cara pandang masyarakat tentang upaya penanganan oleh pemerintah, akibat sudah terlanjur menerima informasi yang keliru tentang Covid-19 dari sumber-sumber tidak resmi dan belum diuji kebenarannya, " ungkap Imam Mahfuri.

Akibatnya, tim satuan tugas penanganan di tingkat kecamatan itu cukup kesulitan melakukan sosialisasi dan langkah isolasi bagi masyarakat yang terpapar karena mereka menganggap virus itu hanyalah sebuah kabar bohong dan sebagian lagi berpendapat Covid-19 adalah sebuah aib yang harus ditutupi ketika ada anggota keluarga yang terinfeksi.

Tak jarang, lanjutnya, ada tindakan pengucilan terhadap penyintas karena ketakutan yang berlebihan dari lingkungan sekitar yang memicu keluarga individu yang terpapar memilih untuk menolak dilakukan uji swab dalam proses tracking terhadap riwayat kontak erat.

"Disitulah dilema terjadi akibat terpicunya kondisi rasa tidak kepedulian dan kurang mawas diri bagi yang tidak mempercayai adanya virus pandemi dan adanya keengganan untuk ditangani karena malu serta ketakutan dikucilkan dari kehidupan sosial bermasyarakat, " ungkapnya.

Namun, sebutnya, sebagai aparat pemerintah pihaknya bersama pihak Pemerintahan tingkat Nagari tetap terus berupaya memberi edukasi dan tindakan isolasi meskipun acap ditolak serta dihalangi demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dan pemenuhan tanggung jawab selaku anak negeri.

Situasi yang sama juga dialami oleh para petugas medis di Puskesmas setempat, sebagaimana diceritakan oleh Kepala Puskesmas Sungai Limau Kecamatan Asam Jujuhan, Novianty Eka Saputri, pihaknya tak jarang mengambil langkah penanganan penuh risiko demi terjaganya kondusifitas kehidupan sosial masyarakat di daerah itu.

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

Terus Diminati, Pelanggan Premium PLN Semakin Bertambah

Senin, 27 September 2021 | 19:40 WIB

3 Desa di Pariaman Terima DAK Program Sanitasi Rp1,2 M

Senin, 27 September 2021 | 16:00 WIB

14 Karya Budaya Sumbar Ditetapkan Sebagai WBTbI

Senin, 27 September 2021 | 13:45 WIB

Limbah Medis B3 dan TPA di Sumbar Mulai Penuh

Senin, 27 September 2021 | 12:33 WIB
X