Bagaimana Hukum Tahlilan 3, 7, 40, dan 100 Hari Orang Meninggal? Inilah Jawaban Tokoh Islam

- Selasa, 5 April 2022 | 15:38 WIB
Ilustrasi hukum tahlilan 3, 7, 40, 100 hari dalam Islam
Ilustrasi hukum tahlilan 3, 7, 40, 100 hari dalam Islam

Menurut KBBI terbaru, tahlilan adalah pembacaan ayat-ayat suci Al Quran untuk memohonkan rahmat dan ampunan bagi arwah orang yang meninggal. Secara umum, tahlilan adalah pembacaan serangkaian ayat Al Quran dan zikir yang pahalanya ditujukan kepada orang yang telah meninggal.

Pihak keluarga akan menyelenggarakan tahlilan jika ada anggota keluarganya yang meninggal saat itu. Tradisi tahlilan di tiap daerah Indonesia pun berbeda-beda, dan bahkan kemungkinan ada di Malaysia. Pihak yang bersangkutan akan memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal.

Kegiatan tahlilan pun dilakukan pada hari ke-1 kematian hingga hari ke-7, kemudian dilakukan pada hari ke-40, ke-100, tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, dan seterusnya. Ada pula pihak keluarga yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.

Sementara, negara Arab seperti Mekkah dan Madinah tidak pernah melakukan tahlilan sebab masih menerapkan ajaran Islam yang murni, dan tahlilan bukanlah ajaran Islam.

Namun, kaum Nahdiyyin melakukan tradisi tahlilan ini yang identik dengan berkumpul sambil berdoa dan membacakan ayat Al Quran, zikir, tasbih, tahmid, tahlil, selawat, dan bacaan lain, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Meski makna sebenarnya dari tahlil adalah bacaan Laailaaha illallaah, penyebutan tahlil dalam sastra Arab justru dikenal sebagai Itlakul juz’i wa iradhatil qulli, yang artinya ‘menyebutkan sebagian tapi yang dimaksudkan seluruhnya’. Tahlilan adalah sebagian dari beberapa macam zikir yang dibaca pada acara tersebut.

Pada zaman Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, tidak ada secara jelas tentang tradisi bacaan tahlilan yang dilakukan umat Islam sekarang ini. Namun, tradisi tahlilan muncul sejak ulama muta’akhirin (khalaf) sekitar abad ke-11 H berdasarkan istinbath dari Al Quran dan hadis Rasulullah Saw.

Para ulama tersebut kemudian menyusun rangkaian bacaan tahlilan, mengamalkannya secara rutin, dan mengajarkannya kepada kaum muslim. Adapun Buya Yahya pernah menjelaskan terkait hukum tahlilan di platform daring miliknya. Bahwa, tahlilan dalam bahasa fiqih berarti membaca Al Quran, zikir, doa dan dimaksudkan untuk menghadiahkan pahalanya untuk orang yang meninggal.

Beberapa ulama pun memiliki pendapat berbeda terkait dengan tahlilan. Ada ulama yang mengungkapkan bahwa doa-doa yang dibacakan tersebut akan sampai kepada orang yang meninggal. Namun, ada pula ulama yang menyatakan doa-doa itu tidak akan sampai.

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Terkini

X