Bagaimana Hukum Menikahi Orang yang Pernah Berzina?

- Rabu, 6 April 2022 | 10:27 WIB
Ilustrasi buku nikah
Ilustrasi buku nikah

إذا زنى الرجل بامرأة لم يثبت بهذا الزنى تحريم المصاهرة فلا يحرم على الزانى نكاح المرأة التي زنى بها ولا أمها ولا ابنتها ولا تحرم الزانية على أبى الزاني ولا على أبنائه  

Artinya: “Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan maka dengan perzinaan ini tidak menetapkan hukum keharaman menikah karena hubungan mushaharah. Maka tidak diharamkan bagi laki-laki yang berzina menikahi perempuan yang dizinai, ibunya, dan anak perempuannya. Tidak haram pula perempuan yang berzina dinikahi oleh bapak dan anak-anak laki-lakinya orang yang menzinainya” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmȗ’ Syarhul Muhadzdzab, juz XVI, h. 486).  

Dari penjelasan di atas dapat diambil satu kesimpulan bahwa perbuatan zina tidak menimbulkan hubungan mushaharah yang menimbulkan status mahram bagi kedua pelaku zina dan bagi orang-orang yang bernasab dengan mereka. Karenanya seorang laki-laki diperbolehkan menikahi perempuan yang dizinainya.

Ia juga dibolehkan menikahi anak perempuan dari perempuan pasangan zinanya, meskipun dalam hal ini sebagian ulama menghukumi makruh karena anak perempuan tersebut terlahir dari spermanya saat menzinai sang ibu. Tidak ada halangan pula bagi laki-laki tersebut untuk menikahi ibunya perempuan yang dizinai.  

Juga sebaliknya jika perempuan yang berzina tidak ada halangan untuk menikah dengan anak laki-lakinya lelaki yang menzinainya. Ia juga diizinkan menikah dengan ayah atau siapa saja orang yang berhubungan nasab dengan laki-laki pasangan zinanya.  

Lebih dari itu, keluarga dari laki-laki yang berzina juga tidak dilarang menikah dengan keluarga perempuan yang dizinai. Itu semua karena perbuatan zina tidak menimbulkan hubungan apa pun—termasuk hubungan mushaharah dan nasab—terhadap kedua pelakunya, keluarganya dan anak keturunan mereka.  

Perlu digarisbawahi bahwa kebolehan pernikahan itu semua adalah aturan hukum fiqih berdasarkan dalil-dalil yang ada. Bahwa pernikahan semacam itu menjadi tabu dan dipandang tidak elok di mata masyarakat adalah hal lain yang berkaitan dengan adat dan kepantasan sosial yang ada. Wallâhu a’lam.



Halaman:

Editor: Muhammad Ikhwanuddin

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X