Apakah Donor Darah Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

- Kamis, 7 April 2022 | 09:46 WIB
DONORKAN DARAH—Direktur Utama Bank Nagari Muhamad Irsyad dan Direktur Kredit dan Syariah Gusti Candra saat mendonorkan darahnya di Aula Kantor Pusat Bank Nagari Jl. Pemuda No.21 Padang, Kamis (10/3).  (IST)
DONORKAN DARAH—Direktur Utama Bank Nagari Muhamad Irsyad dan Direktur Kredit dan Syariah Gusti Candra saat mendonorkan darahnya di Aula Kantor Pusat Bank Nagari Jl. Pemuda No.21 Padang, Kamis (10/3). (IST)

HARIAN HALUAN - Donor darah adalah perbuatan mulia karena stok darah di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) kerap menipis. Namun, ada pertanyaan besar jika seseorang melakukan donor darah ketika sedang berpuasa.

Donor darah merupakan proses transfer darah dari seseorang ke bank darah. Nantinya, darah yang sudah disimpan di dalam kantong itu akan digunakan oleh orang yang membutuhkan. 

Karena donor darah harus melakukan sistem injeksi atau masuknya jarum ke dalam tubuh. Terdapat anggapan bahwa mendonorkan darah dapat membatalkan puasa. Apakah donor darah membatalkan puasa? Berikut penjelasannya dikutip dari laman resmi NU Online

Donor darah diyakini tidak memengaruhi status sah atau tidaknya puasa seseorang. Perbedaannya adalah donor darah itu tidak haram dalam syariat karena melukai tubuh berdasarkan kebutuhan yang dibenarkan secara syariat. Sementara melukai tubuh tanpa tujuan yang jelas hukumnya adalah haram.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, disimpulkan bahwa donor darah tidak akan membatalkan puasa sebagaimana hijamah (bekam). Demikian pula ketika berpijak dari pendapat Hanabilah, donor darah tidak membuat puasa menjadi tidak sah.

Menurut mayoritas Ulama Madzahib al-Arba’ah, bekam tidak membatalkan puasa. Sementara menurut mazhab Hanabilah, bekam dapat membatalkan puasa, hal itu berlaku baik bagi orang yang membekam atau yang dibekam.  Kemudian Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, salah seorang pembesar ulama Hanabilah, membedakan antara hijamah dan tindakan melukai tubuh lainnya, sebagaimana ia tulis dalam kitab monumentalnya, Kassyaf al-Qina’ (2/320).

Ia berpendapat bahwa melukai tubuh dengan selain hijamah tidak dapat membatalkan puasa karena dua alasan, yaitu tidak ada nashnya dan tidak didukung analogi (qiyas) yang mapan. Sementara itu, Syekh Wahbah al-Zuhaili membandingkan beberapa mazhab dan mengklasifikasi tindakan melukai tubuh selain hijamah ke dalam hal-hal yang tidak dapat membatalkan puasa.

Selain itu, Syekh Wahbah juga tidak menyebutkan terdapat perbedaan ulama dalam persoalan ini, berbeda dengan hijamah yang disebutkan perbedaannya.

Ia menegaskan: لَا يُفْطِرُ الصَّائِمُ بِمَا يَأْتِيْ –إلى أن قال- وَإِخْرَاجِ الدَّمِ بِرُعَافٍ، وَجَرْحِ الصَّائِمِ نَفْسَهُ أَوْ جَرَحَهُ غَيْرُهُ بِإِذْنِهِ وَلَمْ يَصِلْ إِلَى جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ آلَةِ الْجَرْحِ، وَلَوْ كَانَ الْجَرْحُ بَدَلَ الْحِجَامَةِ، لِأَنَّهُ لَا نَصَّ فِيْهِ، وَالْقِيَاسُ لَا يَقْتَضِيْهِ.

Halaman:

Editor: Muhammad Ikhwanuddin

Sumber: NU Online

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X