Bagaimana Hukum Puasa Ramadan Jika Mencicipi Makanan saat Memasak? Inilah Dalilnya

- Selasa, 12 April 2022 | 10:01 WIB
Ilustrasi seorang muslim memasak ketika puasa Ramadan 2022
Ilustrasi seorang muslim memasak ketika puasa Ramadan 2022

Puasa Ramadan wajib ditunaikan bagi umat muslim yang sudah baligh dan tidak berhalangan. Adapun syarat sah dan rukun puasa harus dipenuhi agar hukumnya sah dan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Tak hanya itu, bulan Ramadan 2022 juga dapat diisi dengan banyak ibadah termasuk puasa dan salat tarawih dan witir.

Itu pun tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Selain itu, puasa Ramadan adalah bagian dari rukun Islam yang menjadi pedoman agama. Namun, umat Islam tentu pernah berhadapan dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasa Ramadan, misal mencicipi masakan.

Bagi orang yang bertugas mempersiapkan makanan berbuka puasa, tentu hal ini paling sering terjadi di dapur, baik secara sengaja maupun tidak, untuk memastikan makanan yang dibuat sesuai selera. Jika proses mencicipi makanan dapat berdampak pada amanah atau kepercayaan orang lain, tentu hal ini menjadi masalah besar.

Dalam hukum Islam, Allah Swt. tidak akan mempersulit hamba-nya dalam hidup. Justru, Allah Swt. menginginkan para hamba-Nya sukses di dunia maupun akhirat, dalam arti sesuai syariat Islam. Misal, puasa Ramadan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keseharian.

Puasa Ramadan harus sesuai dengan berbagai ketentuan, seperti syarat sah puasa Ramadan, rukun puasa Ramadan, serta tata cara pelaksanaan termasuk niat puasa Ramadan. Meski ada perbedaan pendapat mengenai hal ini, ada pula dalil yang ternyata memperbolehkan mencicipi makanan untuk kebutuhan tertentu. Walaupun ada perbedaan pendapat namun hal ini bisa kita pahami bersama dengan dalil yang ada.

Dalam sebuah hadis, “Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan pergi haji ke Baitul Haram.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Dari hadis itu, ditunjukkan bahwa puasa adalah sendi-sendi Islam sehingga puasa menjadi bagian utama dalam Islam yang harus diperjuangkan secara benar dan ditegakkan sesuai syariah Islam. Dalam Islam, puasa adalah pelatihan mengelola hawa nafsu, dan bukan sekadar menahan atau menekan, melainkan mengelolanya dengan baik.

Jika Islam adalah sendi, sendi itulah yang kelak menggerakkan diri umat Islam dan menjadi penopang dalam diri umat. Sehingga, umat muslim harus menjaga dan mempertahankan puasa agar menjadi puasa yang lebih baik.

Dalam hadis lain, “Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad) Itu pun menunjukkan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa pun dapat menjadi proses ibadah dan menyerahkan diri umat muslim agar lebih taat dan bertakwa kepada Allah Swt.

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Terkini

4 Keutamaan Bertobat yang Perlu Diketahui

Minggu, 3 Juli 2022 | 16:33 WIB

Menjual Kulit Hewan Kurban, Bagaimana Hukumnya?

Kamis, 30 Juni 2022 | 09:38 WIB
X