Hukum Utang dan Balasan Bagi Orang yang Tidak Mau Membayarnya Berdasarkan Ajaran Islam

- Rabu, 11 Mei 2022 | 12:19 WIB
Ilustrasi hukum utang dan balasan bagi orang yang berutang menurut syariat Islam
Ilustrasi hukum utang dan balasan bagi orang yang berutang menurut syariat Islam

Itu pun tertuang dalam sabda Rasulullah Saw., “Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai utang itu dilunasi.”

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarfkafuri ra. pun menjelaskan hadis tersebut, “Berkata As Suyuthi, yaitu orang tersebut tertahan untuk mencapai tempatnya yang mulia.

“Sementara, Imam Al ‘Iraqi mengatakan urusan orang tersebut terhenti (tidak diapa-apakan), sehingga tidak dapat dihukumi sebagai orang yang selamat atau binasa, sampai ada kejelasan nasib utangnya itu sudah dibayar atau belum.”

Bahkan, ada sahabat yang tidak disalati Rasulullah Saw. karena memiliki utang padahal salat beliau adalah syafaat. Dari Jabir ra. berkata, “Adalah Rasulullah Saw. tidak mensalatkan laki-laki yang memiliki utang.

“Lalu, didatangkan mayit ke hadapannya. Beliau bersabda, ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka menjawab, ‘Ya, dua dinar.’ Beliau bersabda, ‘Salatlah untuk sahabat kalian.’”

Dari hal tersebut, Rasulullah Saw. menyampaikan kepada para sahabat bahwa utang harus segera dibayarkan, dan bahkan sebelum meninggal apalagi mampu membayarnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa salat Rasulullah Saw. adalah syafaat, “Jika didatangkan kepada Nabi Saw, seorang mayit, lalu dia hendak mensalatkan maka beliau akan bertanya, apakah dia punya utang atau tidak?

“Jika dia tidak punya utang, beliau mensalatkannya, dan jika dia punya utang maka beliau tidak mau mensalatkannya, tapi mengizinkan para sahabat mensalatkan mayit itu.

“Sesungguhnya salat beliau (untuk si mayit) adalah syafaat (penolong) dan syafaat beliau adalah hal yang pasti.”

Orang yang berutang dan tidak mau melunasinya dipastikan akan bertemu dengan Allah Swt. sebagai pencuri. Itu pun tertuang dalam sabda Rasulullah Saw.,

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Terkini

X