Halalkah Produk Hasil Rekayasa Protein dalam Islam? Inilah Penjelasan LPPOM MUI.

- Selasa, 7 Juni 2022 | 14:55 WIB
Ilustrasi titik kritis halal pada produk hasil rekayasa protein
Ilustrasi titik kritis halal pada produk hasil rekayasa protein

Produk hasil rekayasa protein merujuk pada teknik modifikasi molekul protein yang bertujuan mencapai sifat-sifat tertentu yang dikehendaki.

Sifat-sifat yang diinginkan dari produk hasil rekayasa protein, antara lain kestabilan pada suhu tertentu, oksidasi, logam berat, pH, serta kondisi sifat enzim tertentu.

Misalnya, spesifisitas, peningkatan turnover number atau bilangan pembalikan, dan perubahan kesesuaian pH. Tak hanya itu, seorang auditor juga tak boleh melupakan status kehalalan produk tersebut.

Titik kritis halal pada produk hasil rekayasa protein pun tergantung pada sumber protein dan enzim dalam suatu proses rekayasa.

Perubahan sifat-sifat ini cenderung berhubungan dengan kondisi aplikasi dalam industri yang dapat dilihat dalam tabel Hubungan Target Rekayasa Protein dengan Struktur dan Kehalalan.

Teknik rekayasa protein pun telah diterapkan di beberapa negara melalui institusi khusus, seperti Cambridge Centre for Protein Engineering (CCPE) di Inggris, Centre for Applied Protein Engineering (CAPE) di Jerman, Danish Protein Engineering Research Centre (PERC) di Denmark, serta Laboratory for Protein Engineering (P-2000) di Prancis.

Ulmer, orang yang pertama kali memperkenalkan rekayasa protein juga menegaskan bahwa industri perlu sebuah metode untuk menyesuaikan sifat protein terhadap segala proses sehingga dapat digunakan secara luas di dunia industri sebagai katalis.

Bahkan, Ulmer mengungkapkan bahwa adanya potensi besar dari teknologi rekayasa protein dalam industri saat ini.

Bagi orang Islam, potensi produk hasil rekayasa protein perlu dibarengi dengan titik kritis halal pada produknya sehingga aman dikonsumsi.

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X